get app
inews
Aa Text
Read Next : BREAKING NEWS Polda Metro Jaya Sita 4,8 Kg Sabu Jaringan Iran di Pamulang

Selat Hormuz Kembali Aktif, Pelaku Logistik Ingatkan Ancaman Rantai Pasok Global Belum Berakhir

Rabu, 24 Juni 2026 | 18:01 WIB
header img
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali normal pasca-kesepakatan AS-Iran, namun pelaku logistik mengingatkan kewaspadaan keamanan rantai pasok global. [Foto: Inews]

JAKARTA, iNewsTangsel - Kembalinya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi kabar positif bagi perdagangan global. Jalur pelayaran strategis yang sempat terganggu akibat konflik geopolitik kini mulai kembali dilalui kapal-kapal tanker dan kapal niaga internasional.

Pemulihan aktivitas di kawasan tersebut memunculkan optimisme terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Namun, kalangan pelaku logistik menilai situasi ini belum sepenuhnya aman karena dampak konflik masih menyisakan berbagai tantangan pada rantai pasok global.

Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA), Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan pemulihan pelayaran merupakan perkembangan yang patut disyukuri. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dunia usaha harus tetap bersikap waspada terhadap berbagai risiko yang masih membayangi.

"Kembalinya pelayaran tentu kabar baik bagi dunia usaha. Tetapi kita perlu melihat situasi ini secara lebih komprehensif. Tantangan saat ini bukan hanya soal keamanan jalur pelayaran, melainkan juga kondisi infrastruktur energi yang rusak akibat konflik di kawasan Timur Tengah," ujar Yukki, dalam keterangannya, Rabu (24/6/2026).

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak global dan sebagian besar ekspor gas alam cair dari kawasan Teluk. Stabilitas jalur tersebut memiliki dampak langsung terhadap pasokan energi, biaya logistik, inflasi, hingga daya saing industri di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Saat konflik memuncak beberapa bulan terakhir, dampaknya langsung terasa pada lonjakan harga minyak mentah dunia, kenaikan premi asuransi perang, hingga perubahan rute pelayaran internasional. Kondisi tersebut menyebabkan biaya transportasi dan distribusi barang meningkat tajam di berbagai sektor industri.

Yukki menilai tantangan terbesar saat ini terletak pada proses pemulihan fasilitas energi yang membutuhkan waktu lebih lama dibanding pembukaan kembali jalur pelayaran. Menurutnya, berbagai kilang minyak, terminal ekspor, fasilitas penyimpanan, dan infrastruktur LNG yang terdampak konflik tidak dapat langsung beroperasi normal hanya karena kapal kembali melintas.

"Berbeda dengan jalur pelayaran yang dapat dibuka kembali relatif cepat setelah keamanan membaik, pemulihan fasilitas energi membutuhkan waktu jauh lebih panjang. Kilang minyak, terminal ekspor, fasilitas penyimpanan, hingga infrastruktur LNG yang terganggu memerlukan perbaikan, investasi, serta pengujian operasional sebelum dapat beroperasi optimal," tegas Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) itu.

Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh sejumlah laporan lembaga energi internasional yang mencatat kerusakan signifikan pada aset minyak dan gas di kawasan Teluk. Akibatnya, kapasitas produksi dan distribusi energi global diperkirakan belum dapat pulih sepenuhnya dalam waktu singkat sehingga volatilitas harga energi masih berpotensi terjadi.

Bagi Indonesia, situasi ini menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan logistik dan rantai pasok nasional melalui peningkatan kapasitas penyimpanan energi, penguatan konektivitas multimoda, percepatan hilirisasi industri, serta diversifikasi sumber pasokan strategis. Yukki menegaskan bahwa kemampuan menjaga keberlangsungan rantai pasok akan menjadi faktor penentu daya saing ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

"Selat Hormuz memang kembali ramai. Namun pelajaran terbesarnya bukan sekadar pulihnya lalu lintas kapal tanker, melainkan Indonesia perlu membangun kesadaran bahwa ketahanan energi, infrastruktur, dan rantai pasok global harus terus diperkuat. Di tengah ketidakpastian geopolitik yang semakin kompleks, kemampuan suatu negara menjaga keberlangsungan rantai pasoknya akan menjadi penentu utama daya saing dan ketahanan ekonominya di masa depan," pungkasnya.

Editor : Aris

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut