IHSG Diyakini Tembus 8.000 Meski Geopolitik Memanas
JAKARTA, iNewsTangsel.id -Fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat meski dibayangi ketidakpastian global, termasuk tensi geopolitik dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Sehingga, PT Bank DBS Indonesia mampu memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa kembali menuju level 8.000. Hal itu didukung stabilitas ekonomi domestik, pertumbuhan laba emiten, serta terjaganya peringkat kredit Indonesia.
Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, mengatakan, target tersebut telah mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari potensi perubahan status Indonesia dalam indeks MSCI, nilai tukar rupiah, hingga valuasi pasar saham domestik.
"Target IHSG di level 8.000 sudah mengakomodasi berbagai faktor risiko. Kami melihat fundamental Indonesia masih cukup kuat sehingga pasar saham berpotensi kembali menguat," ujar Djoko, Rabu (15/7/2028).
Menurutnya, perhatian investor kini lebih tertuju pada kinerja emiten yang akan merilis laporan keuangan semester pertama. Pertumbuhan laba perusahaan dinilai akan menjadi katalis utama penggerak pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Ia menambahkan, potensi keluarnya Indonesia dari indeks MSCI dinilai sebagian besar telah diperhitungkan oleh pelaku pasar. Karena itu, jika skenario tersebut terjadi, tekanan terhadap pasar saham diperkirakan tidak akan sedalam ketika isu tersebut pertama kali muncul.
"Selain pasar saham, kami juga masih melihat peluang investasi yang menarik di pasar obligasi Indonesia. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah yang berada di kisaran 5–5,5 persen dinilai kompetitif dibandingkan banyak negara lain sehingga berpotensi menarik aliran dana investor asing," terang Djoko.
Untuk instrumen emas, Djoko mengatakan harga logam mulia masih berpotensi bertahan di level tinggi dalam jangka pendek akibat ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah yang mendorong investor mencari aset aman.
"Namun, dalam jangka panjang, prospek emas tetap positif. Ketika ketegangan geopolitik mulai mereda, emas diperkirakan kembali menjadi instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan nilai mata uang," ungkapnya.
Pada kesempatan ini, pihaknya juga menilai dunia tengah memasuki era inflasi yang lebih tinggi dibandingkan satu dekade terakhir. Kondisi tersebut dipicu meningkatnya investasi pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI), pembangunan pusat data (data center), kebutuhan energi yang semakin besar, serta upaya berbagai negara memperkuat ketahanan energi dan rantai pasoknya.
"Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia sebagai salah satu produsen mineral utama dunia. Permintaan global terhadap bahan baku untuk industri energi dan teknologi diperkirakan akan terus meningkat," paparnya.
Editor : Elva Setyaningrum