Kulit Kering saat Musim Panas? Pendekatan Regeneratif Jadi Tren Perawatan Kulit
TANGERANG, iNewsTangsel.id - Musim panas dengan suhu yang semakin ekstrem tak hanya membuat tubuh mudah dehidrasi, tapi juga berdampak pada kesehatan kulit. Salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan adalah kulit kering, kondisi yang dapat mengurangi kenyamanan sekaligus memengaruhi penampilan.
Berdasarkan data PR TIMES (2019), sebanyak 66,4 persen perempuan berusia 20–40 tahun mengaku mengalami kulit kering selama musim panas. Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor, diantaranya paparan sinar matahari, polusi hingga kebiasaan beraktivitas di ruangan berpendingin udara (AC).
"Selama ini, penggunaan pelembap (moisturizer), sunscreen dengan SPF tinggi dan menghindari paparan sinar matahari langsung bisa menjadi solusi yang paling sering dianjurkan. Namun, di tengah gaya hidup urban yang serba cepat, menerapkan seluruh langkah tersebut secara konsisten tidak selalu mudah," kata Medical Director SAE Clinique, dr. Sebastian Hadyan, Senin (29/6/2026).
Ia menjelaskan, menjaga kesehatan kulit membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan mendukung proses regenerasi alami kulit.
"Di tingkat sel, ada tiga protein utama yang paling bertanggung jawab atas kesehatan kulit, yaitu Hyaluronic Acid, Collagen, dan Elastin. Di antara ketiganya, Hyaluronic Acid berperan langsung dalam menjaga hidrasi karena mampu menarik dan mengunci molekul air di dalam kulit," ujarnya.
Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan Hyaluronic Acid mampu membantu mengurangi penguapan air dari permukaan kulit, mendukung regenerasi jaringan, serta memiliki sifat antiinflamasi yang membantu menjaga kesehatan kulit.
"Namun, kadar Hyaluronic Acid alami dalam tubuh dapat menurun akibat paparan sinar ultraviolet, polusi, penggunaan AC, hingga proses penuaan," ungkapnya.
Sementara itu, lanjutnya, produk perawatan topikal seperti serum dan moisturizer berbasis Hyaluronic Acid belum selalu mampu menjangkau lapisan kulit yang lebih dalam karena ukuran molekulnya relatif besar.
'Untuk mendukung hidrasi kulit yang lebih optimal, klinik kami mengombinasikan Hyaluronic Acid dengan Polynucleotide HPT, yang diklaim memiliki tingkat kemurnian dan stabilitas lebih tinggi," ujarnya.
Menurutnya, melalui metode injeksi, bahan tersebut bekerja langsung pada lapisan dermis untuk merangsang fibroblast memproduksi Collagen, Elastin, dan Hyaluronic Acid secara alami sehingga kelembapan kulit dapat bertahan lebih lama.
"Selain membantu memperbaiki skin barrier, Polynucleotide juga disebut memiliki sifat antiinflamasi dan higroskopis yang mendukung kulit mempertahankan kadar air secara lebih optimal," paparnya.
Diungkapkan, pendekatan tersebut diterapkan kliniknya melalui perawatan ThreeVive Moist, yang dirancang untuk mengatasi kulit kering dengan menyasar tiga komponen utama kesehatan kulit secara bersamaan.
"Untuk permasalahan kulit kering, kami menargetkan Hyaluronic Acid, Collagen, dan Elastin secara bersamaan. Kemudian diperkuat dengan tambahan Hyaluronic Acid untuk memberikan kelembapan, serta dukungan Polynucleotide agar hidrasi tersebut tetap terjaga secara optimal di dalam kulit," kata dr. Sebastian.
Ditambahkam, melalui pendekatan regeneratif yang lebih holistik, perawatan kulit kini tidak hanya berfokus pada mengatasi gejala di permukaan, tapi juga mendukung proses pemulihan alami kulit dari dalam.
"Konsep ini menjadi salah satu tren yang semakin diminati masyarakat urban yang menginginkan kulit sehat, terhidrasi, dan tampak bercahaya di tengah tantangan cuaca panas dan gaya hidup modern," pungkasnya.
Editor : Elva Setyaningrum