Libur Sekolah, Ujian Orang Tua Lawan Anak dari Kecanduan Gadget
TANGERANG, iNewsTangsel.id -Memasuki masa libur sekolah, tantangan orang tua dalam mendampingi anak tidak hanya sebatas mengisi waktu luang dengan kegiatan positif, tapi juga mengawasi penggunaan gadget yang kian sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di tengah meningkatnya intensitas penggunaan gawai saat anak berada di rumah, peran keluarga menjadi benteng utama dalam melindungi anak dari risiko kecanduan maupun paparan konten negatif.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Agus Supriatnaal mengatakan, penggunaan gadget pada anak saat libur sekolah menjadi perhatian khusus. Untuk itu, pihaknya mengimbau para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas digital anak selama libur sekolah yang berlangsung pada 23 Juni hingga 11 Juli 2026.
"Imbauan tersebut merupakan bagian dari penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas)," terangnya, Jumat (3/7/2026).
Ia menegaskan, selama masa libur sekolah, tanggung jawab utama dalam mengawasi aktivitas anak berada di tangan orang tua. Sekolah dan pemerintah memiliki keterbatasan untuk memantau kegiatan peserta didik di luar lingkungan pendidikan.
"Karena itu, orang tua diharapkan tidak hanya membatasi durasi penggunaan gadget, tapi juga membangun komunikasi yang terbuka dengan anak mengenai aktivitas mereka di dunia digital. Pendekatan dialog dinilai lebih efektif dibanding sekadar memberikan larangan," ujarnya.
Ia menjelaskan, pihaknya juga telah menerbitkan surat edaran kepada sekolah, peserta didik, dan orang tua sebagai pengingat pentingnya penggunaan gadget secara bijak. Langkah tersebut diharapkan mampu mencegah anak mengalami ketergantungan terhadap perangkat digital selama menghabiskan waktu di rumah.
"Karena, masa libur sekolah juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk menghadirkan lebih banyak aktivitas bersama, seperti berolahraga, membaca, berwisata, maupun mengikuti kegiatan sosial. Aktivitas tersebut dapat menjadi alternatif yang membantu mengurangi ketergantungan anak terhadap layar sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak.
Menurutnya, setelah masa liburan berakhir, pihaknya berencana melakukan evaluasi di sekolah-sekolah untuk melihat efektivitas imbauan yang telah diberikan. Hasil evaluasi tersebut diharapkan menjadi dasar dalam menyusun langkah-langkah perlindungan anak yang lebih efektif di lingkungan keluarga maupun sekolah.
"Melalui kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan pemerintah, masa libur sekolah diharapkan tidak hanya menjadi waktu beristirahat, tetapi juga menjadi momentum membangun kebiasaan digital yang sehat bagi anak-anak," pungkasnya.
Editor : Elva Setyaningrum