get app
inews
Aa Text
Read Next : Cuaca Ekstrem, Petani Lakukan Mitigasi Antisipasi Puso

Kekeringan Ancam 15 Kecamatan di Kabupaten Tangerang, Picu Gagal Panen

Selasa, 21 Juli 2026 | 14:45 WIB
header img
Ilustrasi sawah di Kabupaten Tangerang, kekeringan. (Foto: Istimewa)

TANGERANG, iNewsTangsel.id -Ancaman bencana kekeringan mulai menghantui Kabupaten Tangerang seiring menguatnya fenomena El Nino. Diprediksi, sedikitnya 15 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan yang dapat memicu gagal panen dan mengganggu ketahanan pangan daerah.

‎Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono mengatakan, pihaknya saat ini masih melakukan pendataan terhadap lahan pertanian yang berpotensi terdampak. Beberapa wilayah yang telah masuk dalam pemantauan antara lain Kecamatan Rajeg, Gunung Kaler, Mekar Baru, dan Kronjo.

‎"Pendataan terhadap lokasi yang mengalami kekeringan hingga saat ini masih terus berlangsung," kata Ujang, Selasa (21/7/2026).

‎Ia menjelaskan, dari hasil koordinasi dengan BMKG Stasiun Klimatologi Banten, curah hujan pada Agustus hingga Oktober diperkirakan hanya berkisar 0–50 milimeter. Sementara musim kemarau diprediksi berlangsung selama 19 hingga 27 dasarian atau sekitar enam hingga sembilan bulan.

‎"Puncak dampak El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026. Selama periode tersebut, curah hujan diprediksi sangat rendah sehingga berpotensi menyebabkan krisis air di sejumlah kawasan pertanian," terangnya. 

‎Ia menambahkan, berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2020, luas Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kabupaten Tangerang mencapai 13.931 hektare. Namun, hingga kini belum dapat dipastikan berapa luas lahan yang akan mengalami puso atau gagal panen karena pendataan masih berlangsung dan kondisi cuaca diperkirakan terus berkembang hingga Oktober.

‎"Mengantisipasi dampak bencana kekeringan, kami telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Upaya tersebut meliputi pembangunan irigasi perpompaan dan perpipaan, optimalisasi lahan pertanian, penyaluran bantuan benih kepada kelompok tani yang terdampak gagal panen, serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung lainnya," ungkap Ujang.

‎Pemerintah berharap langkah mitigasi tersebut dapat mengurangi risiko kerugian petani sekaligus menjaga produksi pangan di tengah ancaman musim kemarau panjang yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

‎"Sehingga ketahanan pangan tetap terjaga dan kerugian petani akibat musim kemarau ekstrem dapat diminimalkan," pungkas Ujang. 

Editor : Elva Setyaningrum

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut