Riset Ungkap Lima Sektor Strategis Indonesia Hadapi Perubahan Menuju Industri Berkelanjutan
JAKARTA, iNewsTangsel - Lanskap keberlanjutan di Indonesia mulai mengalami perubahan, dari yang sebelumnya berfokus pada pemenuhan kepatuhan menjadi bagian dari strategi ketahanan ekonomi dan daya saing perusahaan. Meski demikian, arah perubahan tersebut tidak berlangsung seragam karena setiap sektor menghadapi tantangan, kebutuhan, dan peluang yang berbeda.
Gambaran tersebut tertuang dalam riset DBS bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks yang diluncurkan pada Kamis (20/8/2026). Riset itu memetakan perkembangan keberlanjutan pada lima sektor strategis, yakni energi dan infrastruktur, teknologi dan telekomunikasi, pangan dan agribisnis, kesehatan dan farmasi, serta logam dan pertambangan.
Dari riset tersebut disebutkan bahwa dunia usaha membutuhkan perspektif yang lebih jelas dalam menentukan prioritas dan mengambil keputusan jangka panjang. “Melalui riset ini, Bank DBS Indonesia berupaya memberikan insights yang lebih terarah mengenai perubahan yang terjadi di berbagai sektor strategis, sekaligus peluang dan tantangan yang perlu diantisipasi dunia usaha,” kata Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin.
Pada sektor energi, energi terbarukan, dan infrastruktur, kebutuhan listrik diperkirakan meningkat dari sekitar 300 terawatt jam (TWh) pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060. Peningkatan tersebut antara lain dipengaruhi pertumbuhan kendaraan listrik, hilirisasi mineral, kecerdasan buatan, pusat data, serta elektrifikasi rumah tangga, sementara potensi energi terbarukan Indonesia yang mencapai sekitar 3.687 gigawatt (GW) masih memiliki tingkat pemanfaatan di bawah 0,5%.
Sektor teknologi, media, dan telekomunikasi juga menghadapi perubahan dari bisnis berbasis konektivitas menuju layanan digital yang lebih kompleks. Ketika pertumbuhan sektor telekomunikasi melambat, nilai ekonomi digital Indonesia justru terus berkembang dengan estimasi gross merchandise value (GMV) sekitar US$99 miliar pada 2025, sehingga kebutuhan pusat data, komputasi awan, keamanan siber, dan pusat data hijau diperkirakan semakin meningkat.
Di sektor pangan dan agribisnis, fokus keberlanjutan mulai bergeser dari ekspansi lahan menuju peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan. Indonesia yang memasok sekitar 60% minyak sawit dunia dinilai memiliki peluang melalui peremajaan tanaman, peningkatan produktivitas, sertifikasi keberlanjutan, teknologi pertanian, rantai dingin, sistem ketertelusuran, hingga pupuk organik.
Sementara itu, sektor kesehatan dan farmasi menghadapi tantangan besar dalam membangun ketahanan rantai pasok karena sekitar 90% bahan baku aktif farmasi atau active pharmaceutical ingredients (API) masih berasal dari impor. “Peluangnya ada pada lokalisasi API secara selektif, penguatan manufaktur, diversifikasi pemasok, serta skema pembiayaan tambahan seperti copayment atau KAPJ,” ujar Anthonius.
Pada sektor logam dan pertambangan, tantangan keberlanjutan berkaitan erat dengan kebutuhan meningkatkan nilai tambah sekaligus menekan jejak karbon. Indonesia yang menyumbang sekitar 60% produksi nikel dunia masih menghadapi persoalan penggunaan energi berbasis batu bara dalam pemrosesan nikel, sehingga pengembangan komponen baterai, sistem penyimpanan energi, daur ulang, dan produk logam rendah karbon menjadi peluang berikutnya.
Kelima sektor tersebut menunjukkan bahwa penerapan keberlanjutan semakin terhubung dengan strategi bisnis dan bukan hanya kewajiban administratif. Pergeseran menuju model usaha yang lebih berkelanjutan diharapkan dapat membuka ruang investasi baru sekaligus membantu perusahaan Indonesia menghadapi standar perdagangan global yang semakin ketat, termasuk tuntutan terkait emisi dan produk rendah karbon.
Editor : Aris