E-Commerce dan UMKM Dorong Pertumbuhan Industri Percetakan dan Kemasan
JAKARTA , iNewsTangsel.id - Industri percetakan Indonesia menunjukkan pertumbuhan di tengah perubahan pola konsumsi dan percepatan digitalisasi. Pergeseran dari percetakan massal ke produksi digital, personalisasi, kemasan, dan label menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan sektor tersebut.
Pada 2026, industri percetakan diproyeksikan tumbuh sekitar 3,39 persen dengan pertumbuhan kumulatif di kisaran 11,42 persen. Pertumbuhan terutama ditopang sektor kemasan dan label yang disebut meningkat hingga 20 persen serta textile printing sekitar 15 persen.
Perubahan tersebut tidak terlepas dari perkembangan e-commerce dan pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membutuhkan kemasan serta materi promosi dalam jumlah dan desain yang semakin beragam.
Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif Cecep Rukendi mengatakan perkembangan teknologi digital tidak membuat industri percetakan mengalami kemunduran. Sebaliknya, pelaku industri dituntut beradaptasi dengan kebutuhan baru.
“Ini menunjukkan bahwa industri ini tidak mengalami kemunduran atau senjakala, tetapi beradaptasi dengan perkembangan baru di dunia teknologi digital,” kata Cecep, Rabu (23/9/2026).
Menurut dia, data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang diolah Kementerian Ekraf mencatat subsektor terkait masuk lima besar dari 17 subsektor ekonomi kreatif berdasarkan nilai ekonomi kreatif pada 2025. Nilai investasinya mencapai Rp6,6 triliun atau meningkat 31 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Chief Executive Officer Krista Exhibitions Daud D. Salim mengatakan perkembangan industri percetakan kini mencakup lebih banyak kebutuhan, mulai dari digital printing, kemasan, label, hingga teknologi grafis.
“Industri percetakan saat ini berkembang sangat luas. Tidak hanya berbicara mengenai mesin dan teknologi cetak konvensional, tetapi juga digital printing, printing untuk kemasan, teknologi grafis, label, hingga berbagai solusi yang dibutuhkan oleh industri,” ujar Daud.
Perubahan kebutuhan tersebut membuat teknologi digital printing, otomatisasi, finishing, perangkat lunak, serta teknologi kemasan semakin banyak digunakan untuk mendukung efisiensi dan fleksibilitas produksi.
Perkembangan industri tersebut akan menjadi salah satu bahasan dalam ALLPrint Indonesia 2026 yang berlangsung pada 7–10 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Pameran tersebut dijadwalkan menghadirkan sekitar 400 peserta, termasuk 20 UMKM, dari lebih dari 10 negara. Sejumlah sektor yang ditampilkan meliputi digital printing, packaging printing, teknologi karton, printing equipment, finishing technology, tinta, kertas, media cetak, hingga software.
ALLPrint Indonesia 2026 juga akan diikuti sejumlah agenda pendukung, antara lain Indo Sign & AD, Textile Printing, Print For Pack, Inter Corrugated, dan Pro Label Asia.
Selain pameran, sejumlah forum akan membahas perkembangan digital textile printing, otomatisasi industri karton, sertifikasi halal dan kemasan, serta isu industri grafika. Agenda tersebut menjadi ruang pertukaran informasi mengenai adopsi teknologi, efisiensi produksi, dan penyesuaian industri terhadap perkembangan pasar.
Perubahan tersebut menunjukkan industri percetakan tidak hanya bergantung pada kebutuhan cetak konvensional, tetapi semakin terhubung dengan perkembangan e-commerce, kemasan, UMKM, teknologi digital, dan kebutuhan personalisasi produk.
Editor: Hasiholan Siahaan