Dikukuhkan Jadi Guru Besar Hukum Konstitusi UIN Jakarta, Ismail Hasani Soroti Kepemimpinan Konstitus
"Jika pengadilan menghasilkan constitutional court judgment, dan lembaga politik menghasilkan political judgment, maka akademisi dapat memberikan academic-constitutional judgment," ujarnya. Gagasan ilmiah dari perguruan tinggi tersebut dinilai memiliki fungsi kritis, korektif, sekaligus konstruktif terhadap jalannya kekuasaan.
Acara pengukuhan tersebut turut dihadiri oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, Mendikdasmen Abdul Mu'ti, serta Rektor UIN Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar. Pencapaian gelar profesor ini menjadi puncak dedikasi panjang Ismail di bidang akademis, hukum, dan advokasi HAM.
Jejak pergerakan Ismail dimulai saat menjadi mahasiswa Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1996. Selain aktif dalam gerakan mahasiswa 1998, ia juga pernah menjadi peneliti di Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI).
Kiprah sosialnya berlanjut lewat keterlibatan dalam agenda perdamaian konflik di Maluku, Aceh, dan Papua, serta menjadi Tim Asistensi TPF Munir pada 2004. Pada tahun 2005, ia ikut mendirikan SETARA Institute bersama tokoh nasional seperti Abdurrahman Wahid dan Azyumardi Azra.
Editor: Vitrianda Hilba Siregar