Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Mayat Lelaki 25 Tahun Ditemukan di Aliran Setu Sasak, Polisi Temukan Kunci Motor
Advertisement . Scroll to see content

Viral Tinggal di Tenda, Sisi Gelap Kemiskinan di Balik Gemerlap Tangsel

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:15 WIB
  • author Doni Marhendro
Viral Tinggal di Tenda, Sisi Gelap Kemiskinan di Balik Gemerlap Tangsel
Tenda yang ditempati Bu Bedah di tanah kosong usai tidak bisa membayar kontrakan. Foto: Doni Marhendro.

SETU, iNewsTangsel – Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus tumbuh. Gedung-gedung berdiri, kawasan permukiman dan pusat ekonomi berkembang, sementara pembangunan kota terus digenjot.

Namun, di balik wajah kota yang kian modern itu, masih ada warga yang harus berjuang sekadar mencari tempat untuk berteduh, salah satunya adalah Bu Bedah, Rabu (7/10/2026).

Janda dengan tiga anak dan seorang cucu itu sempat tinggal di dalam tenda sederhana di tanah kosong setelah tak mampu membayar kontrakan selama tiga bulan.

Beratapkan terpal dan beralaskan tanah, tenda menjadi tempat Bu Bedah bertahan hidup. Kisahnya kemudian viral di media sosial dan membuka perhatian terhadap kondisi warga rentan di tengah pesatnya perkembangan Tangsel.

Camat Setu, Bunga Pranatalia Putri mengatakan, persoalan Bedah bermula dari tunggakan kontrakan selama tiga bulan.

Masalah pembayaran kemudian berujung pada persoalan dengan pemilik kontrakan. Bedah akhirnya meninggalkan tempat tinggal tersebut dan mendirikan tenda di tanah kosong.

“Yang terbaru karena memang saya tanya kenapa sampai mendirikan tenda di tanah kosong itu ternyata ada konflik pribadi bersama dengan penyewa yang lama,” kata Bunga, dalam keterangannya seperti dikutip iNewsTangsel. 

Saat berada di tanah kosong, Bedah tidur seorang diri di dalam tenda. Sementara anak-anaknya mengungsi di rumah tetangga.

Kondisi itu menggambarkan betapa tipisnya batas antara bertahan hidup dan kehilangan tempat tinggal bagi keluarga dengan penghasilan tidak tetap.

Kondisi Bedah kemudian menjadi perhatian pemerintah Kecamatan Setu. Pada 5 Oktober 2026, Bunga bersama Lurah Babakan Teten mendatangi Bedah untuk mengecek kondisinya secara langsung.

Saat didatangi, Bu Bedah ternyata sudah mendapatkan kontrakan baru di RT 3/RW 3, Kelurahan Babakan. Proses pindahan masih berlangsung.

“Kemarin tanggal 5 Oktober saya beserta Pak Lurah Babakan, Pak Teten, sudah mengunjungi rumah kediaman Bu Bedah yang terbaru, yaitu di RT 3 RW 3 Babakan,” ujar Bunga.

Tenda yang sebelumnya menjadi tempat tinggal Bedah juga telah dibongkar. Barang-barangnya dipindahkan dan lokasi tanah kosong tersebut sudah dibersihkan.

Untuk urusan tempat tinggal, setidaknya persoalan Bedah untuk sementara mendapatkan jalan keluar.

Di sinilah kisah Bu Bedah menjadi lebih dari sekadar cerita tentang sebuah tenda. Bunga menyebut Bedah tercatat dalam sejumlah program bantuan pemerintah, termasuk P3KE, kemiskinan ekstrem dan PKH.

Selain itu, Pemkot Tangsel juga telah memberikan bantuan sembako dan bantuan lainnya.

Tetapi bantuan yang sudah diterima tidak serta-merta membuat persoalan ekonomi selesai.

Bu Bedah tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia mengandalkan pekerjaan serabutan sebagai buruh cuci dan setrika rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketika penghasilan tidak pasti sementara kebutuhan tempat tinggal dan kebutuhan pokok harus tetap dibayar, satu tunggakan saja bisa membuat keluarga kehilangan tempat tinggal.

Dan itulah yang terjadi, Bu Bedah akhirnya harus mendirikan tenda di tanah kosong sebelum kondisinya diketahui publik.

Kisah Bu Bedah menjadi cermin bahwa pertumbuhan sebuah kota tidak otomatis menghapus persoalan kemiskinan.

Tangsel boleh terus berkembang, kawasan baru boleh terus tumbuh, pusat ekonomi boleh semakin ramai.

Namun, di sela kemajuan itu, masih ada warga yang berjuang mendapatkan kebutuhan paling dasar yakni rumah yang layak dan penghasilan untuk bertahan hidup.

Viralnya kisah Bu Bedah juga memperlihatkan satu persoalan penting, seberapa kuat sistem perlindungan sosial menjangkau warga sebelum mereka benar-benar jatuh?

Sebab, dalam kasus Bu Bedah, perhatian pemerintah datang setelah kondisi tersebut terlihat dan menjadi perhatian publik.

Kini pemerintah Kecamatan Setu masih memantau kondisi Bedah. Jika diperlukan, pemerintah akan mencari skema bantuan lanjutan.

“Kalau memang diperlukan nanti kami akan coba cari cara seperti apa untuk membantu yang bersangkutan lebih lanjut,” ujar Bunga.

Persoalan Bu Bedah memang telah mendapatkan solusi sementara. Tetapi kisahnya menyisakan pekerjaan yang lebih besar.

Sebab, pembangunan kota bukan hanya tentang seberapa tinggi gedung berdiri atau seberapa cepat kawasan berkembang.

Di balik gemerlap Tangsel, masih ada warga yang untuk sekadar bertahan hidup pun harus mendirikan tenda dan fakta itu tak boleh hilang hanya karena tenda tersebut kini sudah dibongkar.

Editor: Doni Marhendro

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut