Mahasiswa Turun ke Desa, UMK Pangan Didorong Penuhi Standar Keamanan
JAKARTA, iNewsTangael.id - Penguatan keamanan pangan di tingkat desa menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan daya saing usaha mikro dan kecil (UMK) pangan di berbagai daerah. Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi, pendampingan produksi, hingga pemahaman terhadap regulasi pangan.
Kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam membantu pelaku UMK memperbaiki proses produksi serta memenuhi berbagai persyaratan administrasi. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas pelaku usaha sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keamanan pangan.
Program KKN Tematik Keamanan Pangan (KKNT KP) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menjadi salah satu wadah untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Mahasiswa dibekali pengetahuan keamanan pangan sebelum diterjunkan untuk memberikan edukasi dan pendampingan di desa.
Dalam program tersebut, mahasiswa berperan sebagai Fasilitator Keamanan Pangan dan Kader Keamanan Pangan. Materi yang diberikan mencakup lima kunci keamanan pangan, Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPB-IRT), penyusunan SOP produksi, GAP Assessment dan CAPA, hingga tata cara perizinan pangan olahan.
Pendampingan juga mencakup proses administrasi usaha, termasuk pendaftaran Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPPIRT) melalui sistem Online Single Submission (OSS).
Pada pelaksanaan 2026, Universitas Mataram menjadi salah satu perguruan tinggi yang terlibat dalam program tersebut. Kegiatan di Nusa Tenggara Barat mencakup pendampingan di 10 desa dengan melibatkan mahasiswa yang sebelumnya mendapatkan pembekalan teknis keamanan pangan.
Perwakilan Universitas Mataram, Maiser Syaputra, mengatakan program tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan sekaligus berkontribusi langsung kepada masyarakat.
“Melalui pendampingan di 10 desa, mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat dan pelaku UMK pangan, khususnya dalam meningkatkan pemahaman mengenai keamanan pangan, proses produksi yang baik, serta pemenuhan aspek administrasi dan regulasi,” ujar Maiser, Kamis (8/10/2026).
Program KKNT KP 2026 tercatat melibatkan lima perguruan tinggi, yakni IPB University, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanuddin, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Mataram. Kegiatan dilaksanakan di sejumlah wilayah, baik di Jawa maupun luar Jawa.
Pelaksanaan program turut mendapat dukungan dunia usaha melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Dukungan tersebut antara lain digunakan untuk menunjang kegiatan mahasiswa di lapangan, penyediaan peralatan produksi sederhana bagi UMK binaan, serta pameran hasil kegiatan KKN di desa.
Presiden Direktur PT Yili Indonesia Dairy, Yu Miao, mengatakan penguatan kapasitas masyarakat di daerah perlu dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor.
“Perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai pusat pengetahuan dan pengembangan sumber daya manusia di daerah, sementara UMK menjadi bagian penting dari penggerak ekonomi masyarakat,” kata Yu.
Menurut dia, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dapat menciptakan dampak yang lebih luas, terutama dalam memperkuat ekosistem pangan dan kapasitas pelaku usaha di luar pusat-pusat ekonomi utama.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi Merdeka Belajar-Kampus Berdampak (MBKB), karena memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan kompetensi akademiknya melalui persoalan nyata di masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, penguatan keamanan pangan tidak hanya diarahkan pada pemenuhan standar dan regulasi, tetapi juga peningkatan kapasitas pelaku UMK agar mampu menjalankan usaha secara lebih baik dan berkelanjutan.
Editor: Hasiholan Siahaan