Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sinergi Baru Perbankan dan Fintech Perkuat Fondasi Keamanan Siber untuk Mendorong Ekonomi Riil
Advertisement . Scroll to see content

Risiko Iklim Mengancam Kinerja Keuangan

Jum'at, 09 Oktober 2026 | 16:09 WIB
  • author Elva
Risiko Iklim Mengancam Kinerja Keuangan
Penguatan manajemen risiko iklim diperlukan agar perusahaan mampu menjaga ketahanan bisnis dalam jangka panjang. Foto Istimewa

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Risiko perubahan iklim mulai menjadi perhatian penting bagi industri keuangan karena berpotensi memengaruhi kualitas pembiayaan, nilai agunan, kemampuan bayar debitur, hingga kinerja keuangan perusahaan. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, penguatan manajemen risiko iklim diperlukan agar perusahaan mampu menjaga ketahanan bisnis dalam jangka panjang.

‎"Untuk itu, kami bekerja sama dengan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF dalam penerapan Climate Risk Stress Testing (CRST), yakni pengujian untuk mengukur potensi dampak berbagai skenario perubahan iklim terhadap profil risiko dan kondisi keuangan perusahaan," kata Direktur Niaga dan Operasi PT Surveyor Indonesia (Persero) PTSI, Euis Emalia Noor mengatakan, Jumat (9/10/2026).

‎Menurutnya, kerja sama ini mencakup identifikasi risiko fisik dan risiko transisi, penilaian kesiapan perusahaan, serta pengembangan pendekatan pengukuran dampak risiko iklim terhadap bisnis SMF.

‎"Hasil pengujian diharapkan dapat menjadi dasar penguatan strategi mitigasi dan pengelolaan risiko secara berkelanjutan," imbuhnya.

‎Ia mengungkapkan, perubahan iklim tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai isu lingkungan karena berpotensi memengaruhi ketahanan dan kinerja finansial perusahaan.

‎“Industri keuangan membutuhkan pendekatan yang mampu menerjemahkan risiko iklim menjadi potensi dampak yang terukur terhadap bisnis dan keuangan,” ujar Euis.

‎Menurut dia, CRST menjadi salah satu instrumen untuk memahami ketahanan perusahaan terhadap berbagai kemungkinan kondisi iklim pada masa mendatang sekaligus memperkuat manajemen risiko dan strategi bisnis.

‎"Risiko iklim dapat memengaruhi industri keuangan melalui dua jalur utama. Pertama, risiko fisik yang timbul akibat banjir, kebakaran, cuaca ekstrem, kenaikan suhu, dan permukaan air laut. Kedua, risiko transisi yang muncul akibat perubahan kebijakan, perkembangan teknologi, serta pergeseran preferensi konsumen dan investor menuju ekonomi rendah karbon," ucapnya.

‎Kedua,  lanjut Euis, risiko tersebut dapat merembet ke sektor keuangan melalui penurunan nilai aset, gangguan operasional, perubahan kondisi pasar, hingga memburuknya kemampuan debitur memenuhi kewajiban pembayaran.

‎"Dalam sektor pembiayaan perumahan, misalnya, bencana dan perubahan kondisi lingkungan berpotensi memengaruhi nilai properti yang menjadi agunan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan eksposur risiko perusahaan pembiayaan apabila tidak diantisipasi melalui pemetaan dan pengukuran risiko yang memadai," paparnya.

‎Menurutnya, melalui CRST, perusahaan dapat mengembangkan skenario perubahan iklim dan mengukur potensi dampaknya terhadap indikator keuangan. Proses tersebut mencakup penilaian kesiapan data, identifikasi risiko yang relevan, analisis jalur transmisi risiko iklim, serta penyusunan rekomendasi mitigasi.

‎"Kami mendukung proses tersebut melalui kapabilitas di bidang keberlanjutan, penilaian risiko, serta iklim dan karbon. Pendekatan yang digunakan mencakup pemetaan risiko, analisis data spasial, pengukuran paparan aset terhadap bencana, hingga penyusunan rekomendasi yang disesuaikan dengan karakteristik bisnis perusahaan," terangnya.

‎Bagi perusahaan keuangan, informasi tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam mengidentifikasi kerentanan aset dan menyusun strategi menghadapi potensi gangguan ekonomi akibat perubahan iklim.

‎"Kerja sama ini juga diarahkan untuk membangun pemahaman internal dan perangkat pengujian yang dapat digunakan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pengelolaan risiko iklim tidak hanya dilakukan melalui satu kali pengujian, tetapi dapat diintegrasikan ke dalam proses pengambilan keputusan perusahaan," jelasnya.

‎Ke depan, penguatan manajemen risiko iklim diharapkan dapat membantu perusahaan meningkatkan ketahanan bisnis, mengantisipasi potensi kerugian, dan menjaga keberlanjutan sektor keuangan, khususnya pembiayaan perumahan, di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat perubahan iklim.

Editor: Elva Setyaningrum

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut