Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Asuransi Manfaatkan Drone, Deteksi Dini Risiko Aset Korporasi
Advertisement . Scroll to see content

Literasi Asuransi Rendah, Edukasi Konsumen Perlu Diperluas

Rabu, 21 Oktober 2026 | 09:26 WIB
  • author Elva
Literasi Asuransi Rendah, Edukasi Konsumen Perlu Diperluas
Ketua Pengawasan DAI, Ignasius Jonan ingatkan industri asuransi tak sekadar jual produk. Foto Elva

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Industri asuransi nasional menghadapi tantangan memperluas pasar di tengah rendahnya pemahaman masyarakat terhadap produk perlindungan keuangan. Untuk itu, perusahaan asuransi agar tidak hanya mengejar penjualan, tapi juga mengedepankan edukasi konsumen untuk menjaga kepercayaan dan keberlanjutan industri.

‎Ketua Pengawasan Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Ignasius Jonan mengatakan, pemahaman masyarakat terhadap produk asuransi perlu dibangun secara bertahap. Karena tingkat literasi keuangan setiap calon nasabah berbeda. Sedangkan, produk asuransi memiliki karakteristik dan risiko yang tidak selalu mudah dipahami.

‎"Perusahaan perlu memastikan masyarakat memahami manfaat, ketentuan dan risiko produk sebelum memutuskan membeli polis, terutama untuk produk yang memiliki unsur investasi seperti unit link," kata Jonan dalam kegiatan Hari Asuransi 2026 di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

‎Ia meminta perusahaan asuransi untuk menjual produk yang juga mendidik masyarakat. Kalau tidak, industri ini bisa terkena dampaknya, sekarang atau suatu saat nanti. Karena pertumbuhan industri yang tidak disertai pemahaman konsumen berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari. 

‎"Pengalaman krisis pada sektor keuangan menjadi pelajaran bahwa ekspansi bisnis perlu berjalan seiring dengan pengelolaan risiko dan perlindungan konsumen," tegas Jonan. 

‎Jonan menilai, penetrasi asuransi di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Karena itu, pelaku industri perlu memperluas edukasi agar masyarakat tidak hanya mengenal asuransi, tetapi juga memahami pentingnya perlindungan finansial sesuai kebutuhan.

‎"Tantangan tersebut tercermin dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026. Tingkat literasi sektor perasuransian tercatat sebesar 42,84 persen, sedangkan tingkat inklusinya mencapai 29,55 persen. Dibandingkan 2025, tingkat inklusi meningkat dari 28,50 persen. Namun, tingkat literasi turun dari 45,45 persen," terangnya. 

‎Jonan menegaskan, data tersebut menunjukkan, peningkatan penggunaan produk asuransi masih perlu diimbangi pemahaman masyarakat mengenai manfaat, karakteristik, serta ketentuan perlindungan yang ditawarkan.

‎"Edukasi perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai saluran, mulai dari media massa, media sosial hingga kegiatan langsung kepada masyarakat. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan dapat memilih produk sesuai kebutuhan dan memahami manfaat serta risiko yang ditanggung," ucapnya. 

‎Pada kesempatan yang sama, Ketua DAI Yulius Bhayangkara mengatakan, edukasi menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap industri asuransi. Karena literasi asuransi bukan hanya tentang mengenalkan produk, tetapi juga memberikan pemahaman yang benar mengenai pentingnya perlindungan keuangan melalui asuransi.

‎"Kegiatan edukasi perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui media massa, media sosial, dan pertemuan langsung dengan masyarakat agar pemahaman tersebut dapat mendorong penggunaan produk asuransi secara tepat," ujarnya. 

Editor: Elva Setyaningrum

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut