Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 1.194 Mahasiswa Ikuti Kompetisi Bisnis, Maggot dan Sabun dari Limbah Buah Jadi Inovasi
Advertisement . Scroll to see content

Indonesia Targetkan Pengurangan Emisi Karbon melalui Efisiensi Energi Bangunan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 20:27 WIB
  • author Hasiholan
Indonesia Targetkan Pengurangan Emisi Karbon melalui Efisiensi Energi Bangunan
Selain penggunaan teknologi yang tepat, efisiensi energi juga perlu didukung perencanaan desain, pemantauan konsumsi energi, dan pengelolaan operasional gedung secara berkelanjutan. Foto ilustrasi

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Efisiensi energi menjadi salah satu langkah penting untuk menekan emisi karbon dari sektor bangunan di Indonesia. Berdasarkan data dalam roadmap pengembangan bangunan hijau pemerintah, sektor bangunan menyumbang sekitar 33% emisi gas rumah kaca nasional selama periode 2011–2021.

Pemerintah menargetkan pengurangan emisi sebesar 1,91 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) dari subsektor bangunan komersial hingga 2030. Target tersebut mendorong perlunya penerapan teknologi hemat energi, pengelolaan operasional gedung yang efisien, serta pemilihan peralatan yang mendukung pembangunan rendah karbon.

Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah penggunaan sistem tata udara atau heating, ventilation, and air conditioning (HVAC). Pada bangunan komersial seperti perkantoran, hotel, dan pusat perbelanjaan, pemilihan sistem pendingin perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap ruangan untuk mengoptimalkan konsumsi energi dan mendukung kinerja bangunan.

Dalam konteks tersebut, dua sistem tata udara, VRV 6X dan VRV 6A, memperoleh sertifikasi Green Label Indonesia dengan predikat Platinum dari Green Product Council Indonesia (GPCI). Keduanya menjadi sistem pendingin udara kategori Variable Refrigerant Volume (VRV) pertama yang meraih sertifikasi tersebut.

Assistant General Manager Consulting Sales PT Daikin Airconditioning Indonesia, Meli Nuraeni, mengatakan penerapan prinsip bangunan hijau memerlukan pertimbangan menyeluruh, termasuk dalam menentukan sistem tata udara yang sesuai dengan kebutuhan bangunan.

“Penerapan prinsip bangunan hijau membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, termasuk dalam pemilihan sistem tata udara yang dapat mendukung efisiensi energi dan kinerja bangunan,” ujar Meli, Sabtu (24/10/2026).

Menurut dia, setiap bangunan memiliki karakteristik dan kebutuhan pendinginan yang berbeda. Oleh karena itu, pemilihan sistem tata udara perlu mempertimbangkan kapasitas pendinginan, efisiensi energi, fleksibilitas desain, serta kebutuhan operasional dalam jangka panjang.

Penilaian Green Label Indonesia terhadap kedua sistem tersebut mencakup sejumlah aspek, antara lain material, kualitas produk, proses manufaktur, pengelolaan lingkungan dan limbah, serta tanggung jawab produsen terhadap produk setelah digunakan atau Extended Producer Responsibility (EPR).

Selain sertifikasi, edukasi bagi konsultan, kontraktor, pengembang, pemilik gedung, dan pengelola bangunan juga diperlukan untuk meningkatkan pemahaman mengenai penerapan teknologi hemat energi. Diskusi mengenai sistem HVAC dapat membantu para pemangku kepentingan mempertimbangkan kebutuhan teknis sekaligus aspek keberlanjutan dalam perencanaan bangunan.

Penerapan bangunan rendah karbon membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Selain penggunaan teknologi yang tepat, efisiensi energi juga perlu didukung perencanaan desain, pemantauan konsumsi energi, dan pengelolaan operasional gedung secara berkelanjutan.

Editor: Hasiholan Siahaan

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut