Badai dalam Tungku, Kisah Perjuangan Menjaga Warisan Budaya
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Upaya melestarikan seni dan budaya tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan, tapi juga dengan mendokumentasikan perjalanan orang-orang yang berjuang menjaganya. Hal inilah yang dilakukan Ni Luh Made Dwi Indriati atau Wiwiek melalui buku Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra (SBS) .
"Buku tersebut merekam perjalanan SBS, ruang budaya di Jakarta yang mempertemukan seni pertunjukan dengan kuliner tradisional Indonesia. Di dalamnya, diangkat kisah tentang mimpi, perjuangan, dan keteguhan mempertahankan ruang bagi seni dan tradisi Nusantara," kata Wiwiek, dalam keterangan, Minggu (1/11/2026).
Menurut Wiwiek, gagasan penulisan buku ini berawal dari keinginan saya mengabadikan salah satu karya almarhum Sampan Hismanto, pendiri SBS. Karena perjalanan SBS menyimpan cerita yang layak dikenal lebih luas, terutama mengenai upaya menjaga keberlangsungan ruang budaya di tengah perubahan zaman
“Keinginan saya adalah mendokumentasikan secara khusus salah satu karya terbaik almarhum Bapak Sampan Hismanto, yaitu Sampan Bujana Sentra. Saya ingin bercerita melalui buku,” ungkap Wiwiek.
Ia menjelaskan, ide tersebut muncul ketika ia duduk di dalam ruangan SBS dan kembali mengingat berbagai kegiatan serta pengalaman yang pernah berlangsung di tempat itu.
"Kenangan tersebut kemudian mendorongnya menuangkan perjalanan SBS ke dalam tulisan agar nilai-nilai yang melekat di dalamnya tidak hilang begitu saja," imbuhnya.
Ia mengungkalkan, SBS menghadirkan perpaduan kuliner tradisional, tari daerah, musik, dan pertunjukan seni. Melalui konsep tersebut, masyarakat dapat mengenal kekayaan budaya Indonesia tidak hanya melalui tontonan, tapi juga lewat pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Perpaduan seni dan kuliner itu sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui beragam pendekatan. Tradisi tidak hanya dijaga melalui dokumentasi atau kegiatan formal, tetapi juga dengan menyediakan ruang agar masyarakat dapat menikmati dan mengenalnya secara langsung," katanya.
Namun, lanjut Wiwiek, untuk mempertahankan ruang budaya bukan perkara mudah. Apalagi, setelah Sampan Hismanto meninggal dunia, keberlangsungan SBS menjadi bagian dari perjuangan para penerusnya yang menghadapi tantangan untuk menjaga semangat pendirian tempat tersebut di tengah perubahan dan dinamika internal.
"Maka, melalui buku ini, saya berupaya merekam keteguhan orang-orang yang melanjutkan perjalanan SBS. Dokumentasi tersebut menjadi pengingat, bahwa pelestarian budaya membutuhkan komitmen yang berkelanjutan, bukan sekadar semangat pada awal pendirian," paparnya.
Bagi Wiwiek, menulis buku juga menjadi cara untuk menjaga ingatan tentang sosok dan tempat yang memiliki arti penting. Dalam proses penulisan buku ini ia mengaku menghadapi tantangan akibat perubahan kondisi dan situasi internal yang berlangsung cepat. Situasi tersebut menguji konsistensinya untuk menyelesaikan buku.
"Pengalaman itu memperkuat pesan yang ingin disampaikannya, yakni pentingnya keberanian untuk memulai dan keteguhan untuk melanjutkan sebuah gagasan meski menghadapi berbagai hambatan. Kita tidak perlu dimulai dari satu langkah kecil. Yang terpenting adalah memiliki keberanian untuk memulai dan menjaga komitmen agar apa yang kita impikan bisa diwujudkan,” katanya.
Melalui buku tersebut, Wiwiek berharap semakin banyak masyarakat mengenal SBS dan memahami pentingnya ruang yang mendukung perkembangan seni serta budaya Indonesia. Ia juga berharap SBS dapat berkembang sebagai destinasi wisata budaya sekaligus ruang bagi para pelaku seni untuk berkarya dan membangun karier.
Lebih dari sekadar merekam perjalanan sebuah tempat, buku ini membawa pesan bahwa warisan budaya perlu dijaga melalui tindakan nyata, keberlanjutan ruang berkesenian, serta upaya mewariskan cerita kepada generasi berikutnya," tutup Wiwiek.
Editor: Elva Setyaningrum