Kolaborasi Dunia Usaha Dorong Pengumpulan Sampah Kemasan
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kolaborasi antara sektor ritel, produsen barang konsumsi, dan mitra pengelolaan sampah menjadi salah satu upaya mendorong pengurangan sampah kemasan di Indonesia. Melalui keterlibatan konsumen dalam pengembalian botol bekas, dunia usaha berupaya mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Inisiatif tersebut diwujudkan melalui program Botol Kembali Hadiah Menanti yang melibatkan Super Indo, PZ Cussons Indonesia, dan Waste Hub (WAHU). Program ini mengajak konsumen mengembalikan kemasan botol bekas produk PZ Cussons maupun Super Indo 365 melalui gerai ritel.
"Program ini berlaku di seluruh gerai di wilayah Jabodetabek dan Bandung tersebut menggabungkan aktivitas belanja dengan pengumpulan kemasan bekas. Konsumen yang memenuhi ketentuan program dapat menukarkan botol bekas dengan hadiah setelah melakukan pembelian produk yang dipersyaratkan," kata Vice President of Stores & Supply Chain Super Indo Donny Ardianta Passa, Sabtu (31/10/2026).
Ia menjelaskan, keterlibatan perusahaan dalam pengelolaan sampah tidak berhenti pada aktivitas penjualan, tetapi juga mencakup edukasi konsumen dan perubahan perilaku masyarakat.
"Program tersebut merupakan kelanjutan dari komitmen Aksi Hijau yang telah dijalankan bersama sejak 2024. Bagi kami, kolaborasi lintas sektor, penting untuk menghubungkan kesadaran masyarakat terhadap persoalan sampah dengan sistem pengumpulan kemasan yang dapat dijalankan secara berkelanjutan," ujarnya.
Sementara itu, Managing Director PZ Cussons Ningcy Yuliana mengungkapkan, keterlibatan konsumen menjadi bagian penting dalam upaya pengelolaan kemasan setelah produk digunakan.
"Melalui program tersebut, perusahaan berharap masyarakat semakin memperhatikan penanganan kemasan bekas, sehingga tanggung jawab terhadap produk tidak berhenti setelah dikonsumsi," ucapnya.
Koordinator Pokja Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Ujang Solihin Sidik, menekankan pentingnya partisipasi masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah dalam mengurangi timbulan sampah.
"Inisiatif berbasis kebiasaan sehari-hari dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat. Namun, upaya tersebut perlu didukung mekanisme pengumpulan dan pengolahan sampah yang efektif, efisien, serta bertanggung jawab. Selain itu, keterlibatan mitra pengumpulan juga menjadi bagian dari rantai pengelolaan kemasan," imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, pendiri WAHU, Michiel Reinoud, menyatakan pihaknya mendukung pelaksanaan program melalui penyediaan fasilitas dan dukungan operasional untuk proses pengumpulan kemasan bekas. Dalam pelaksanaannya, ditargetkan lebih dari 60.000 pelanggan berpartisipasi dan sedikitnya 60.000 kemasan bekas terkumpul selama periode program.
"Untuk mengikuti program, pelanggan diwajibkan membeli minimal satu produk yang memenuhi ketentuan, kemudian membawa satu botol bekas produk varian apa pun atau botol bekas milik ritel ini ke gerai. Kemasan diserahkan kepada kasir bersama bukti transaksi untuk diverifikasi," terangnya.
Selain mendorong pengumpulan kemasan, lanjutnya, skema tersebut memperlihatkan bagaimana perusahaan menghubungkan agenda lingkungan dengan kegiatan komersial. Bagi sektor ritel dan produsen, keterlibatan konsumen dalam program semacam ini juga berpotensi memperkuat hubungan dengan pelanggan.
"Efektivitas program pengumpulan kemasan tidak hanya ditentukan oleh jumlah botol yang berhasil dikumpulkan. Pengelolaan lanjutan, termasuk pemilahan, pengangkutan, dan proses daur ulang, menjadi faktor penting untuk memastikan kemasan yang terkumpul benar-benar ditangani secara bertanggung jawab," ungkapnya.
Editor: Elva Setyaningrum