JAKARTA, iNewsTangsel.id - Aroma adonan yang baru matang menyambut siapa pun yang melangkah ke sebuah sudut di Mall Kelapa Gading, Jakarta. Di balik toko sederhana, donat-donat dengan tampilan berbeda tersusun rapi di atas meja. Tak sekadar manis, tapi juga membawa cerita tentang tempat, budaya, dan perjalanan panjang sebuah dapur kecil di Bali menuju hiruk-pikuk Jakarta.
Untuk pertama kalinya, Dough Darlings, jenama donat artisan yang berakar dari Bali, menyapa penikmat kuliner ibu kota lewat kehadiran gerai sementara yang dibuka hingga Maret 2026.
Menurut Co-Founder Dough Darlings, Ivan Mario Halim, donat bukan sekadar kudapan manis. Karena setiap adonan menjadi medium bercerita, tentang bahan pilihan, teknik yang dijaga, dan keberanian mengangkat cita rasa Nusantara ke dalam bentuk yang tak lazim. Sehingga ada cerita yang saling terhubung dalam setiap gigitan.
Sejak berdiri pada 2015, donat ini konsisten memproduksi donat secara manual, sebuah pendekatan yang menuntut ketelitian lebih, namun diyakini mampu menjaga karakter rasa yang melahirkan donat artisan. Sehingga donat tak lagi sekadar camilan, melainkan pengalaman kuliner yang utuh.
“Berbeda dari donat produksi massal, donat artisan dibuat secara manual dengan perhatian penuh pada setiap detail proses. Mulai dari adonan, fermentasi, hingga penyajian, semuanya dikerjakan dengan ketelitian untuk menghasilkan tekstur yang autentik dan rasa yang berlapis,” katanya di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Perjalanan donat ini bermula dari Bali, pulau yang kaya akan tradisi kuliner dan keberanian bereksperimen. Pengaruh tersebut terasa kuat dalam berbagai varian yang kini hadir di Jakarta. Donat Ayam Klungkung dan Ayam Bejek, misalnya, memadukan teknik pastry dengan rasa gurih khas masakan Bali.
“Sementara varian manis, seperti Klepon Mochi dan Pie Susu menghadirkan nostalgia jajanan tradisional dalam kemasan yang lebih modern,” imbuhnya.
Kehadiran rasa-rasa tersebut bukan tanpa risiko. Menggabungkan donat dengan ayam berbumbu atau gula aren dan kelapa parut membutuhkan keseimbangan yang presisi agar tidak saling menutupi.
“Namun di situlah ciri donat kami terbentuk dengan berani mengeksplorasi, tanpa meninggalkan akar rasa lokal,” tegasnya.
Jakarta dipilih bukan sekadar sebagai pasar besar, melainkan sebagai ruang dialog antara produk artisan dan selera urban yang terus berkembang. Kota ini dikenal dengan ritme cepat dan pilihan kuliner yang berlimpah, membuat konsumen semakin kritis terhadap kualitas dan cerita di balik makanan yang mereka konsumsi.
Setiap donat diproses melalui tahapan panjang, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan adonan, hingga penyempurnaan rasa. Proses manual ini memungkinkan kontrol kualitas yang lebih ketat, sekaligus memberi ruang bagi karakter setiap varian untuk tampil berlapis.
Menariknya, perjalanan donat ini tak berhenti di dalam negeri. Setelah berhasil membangun basis penggemar yang kuat di dalam negeri, donat ini membawa interpretasi rasa lokal ke panggung internasional melalui kehadirannya di Doha, Qatar.
“Langkah tersebut menunjukkan, cita rasa lokal dapat diterjemahkan lintas budaya, selama disajikan dengan pendekatan yang relevan,” ucapnya.
Meski pop-up store di Jakarta bersifat sementara, pengalaman yang ditawarkan lebih dari sekadar mencicipi donat. Karena dalam setiap gigitannya, donat ini bisa menjadi pengingat, bahwa makanan bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara kenangan masa lalu dan gaya hidup masa kini.
Ketika pop-up store ini berakhir, kami akan kembali pada jalur distribusi daring. Sehingga pengalaman menikmati donat artisan yang khas ini tetap dapat dirasakan oleh warga Jakarta. Jejak rasa yang ditinggalkan, bagaimana donat bisa bercerita tentang Bali, tentang Indonesia, kemungkinan akan bertahan lebih lama di ingatan para penikmatnya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
