JAKARTA, iNewsTangsel.id - Pertumbuhan layanan streaming Over-The-Top (OTT) di Indonesia menunjukkan akselerasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dipicu perubahan pola konsumsi hiburan digital dan meningkatnya penetrasi internet mobile. Platform streaming kini tidak lagi dipandang sebagai alternatif televisi, melainkan medium utama konsumsi konten masyarakat urban.
Tren yang menonjol adalah meningkatnya konsumsi micro drama berdurasi pendek, terutama produksi Tiongkok dengan format video vertikal. Format ini dinilai selaras dengan kebiasaan pengguna yang menginginkan konten cepat, ringkas, dan mudah diakses melalui perangkat seluler.
Country Head WeTV Indonesia, Febriamy Hutapea, mengatakan micro drama menjadi salah satu pendorong pertumbuhan pengguna platform OTT di Indonesia. “Micro drama dengan durasi singkat dan alur cerita berkelanjutan relevan dengan pola konsumsi digital saat ini. Format ini tidak hanya meningkatkan frekuensi menonton, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi segmen audiens baru,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (2/3/2026).
Menurut laporan Media Partners Asia, industri micro drama global diproyeksikan menghasilkan pendapatan sekitar USD16 miliar pada 2026 dan berpotensi meningkat hingga USD26 miliar pada 2030. Proyeksi tersebut mencerminkan pergeseran preferensi pasar menuju konten pendek berbasis mobile.
Febriamy menilai pertumbuhan OTT di Indonesia akan ditentukan oleh kemampuan platform memahami preferensi lokal serta memanfaatkan teknologi distribusi konten berbasis data. “Persaingan tidak hanya pada jumlah konten, tetapi pada relevansi cerita dan pengalaman menonton yang dipersonalisasi. Platform yang mampu membaca perilaku audiens akan memiliki daya saing lebih kuat,” katanya.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
