TANGERANG SELATAN, iNewsTangsel.id - Cedera engkel atau ankle sprain, salah satu cedera yang paling sering terjadi, khususnya saat olahraga seperti basket, futsal, lari, dan voli. Meski kerap dianggap ringan, cedera ini dapat berkembang menjadi masalah serius jika tidak ditangani dengan tepat sejak awal.
Dokter dari Kedokteran Olahraga RS Premier Bintaro dr. Chikih, Sp.KO, MKK (DMA) menjelaskan, ankle sprain terjadi ketika ligamen pada pergelangan kaki mengalami peregangan berlebih atau bahkan robek akibat gerakan memutar mendadak, salah pijakan, atau benturan dengan pemain lain.
“Risiko cedera meningkat pada kondisi lapangan yang tidak rata, penggunaan sepatu yang tidak sesuai, kelemahan otot di sekitar pergelangan kaki, serta riwayat cedera sebelumnya,” katanya, Selasa (24/3/2026).
Menurutnya, gejala yang muncul biasanya meliputi nyeri saat menapak, pembengkakan, memar, hingga keterbatasan gerak. Pada beberapa kasus, penderita juga merasakan ketidakstabilan pada pergelangan kaki atau mendengar bunyi “krek” saat cedera terjadi.
“Tingkat keparahan cedera dibagi menjadi tiga derajat, mulai dari peregangan ringan hingga robekan total ligamen yang menyebabkan ketidakstabilan signifikan pada sendi,” ujarnya.
dr. Chikih mengungkapkan, penanganan awal sangat menentukan proses pemulihan. Metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) dianjurkan untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan.
“Penderita harus mengistirahatkan kaki, melakukan kompres dingin selama 15–20 menit beberapa kali sehari, menggunakan perban elastis, serta menjaga posisi kaki lebih tinggi saat beristirahat,” terangnya.
Namun, lanjut dr. Chikih, pemulihan tidak berhenti pada penanganan awal. Rehabilitasi menjadi tahap penting untuk mengembalikan fungsi sendi sekaligus mencegah cedera berulang.
“Program rehabilitasi biasanya mencakup latihan penguatan otot, latihan keseimbangan, serta edukasi teknik gerak yang benar dapat membantu mencegah cedera berulang,” imbuhnya.
Ia mengatakan, tanpa rehabilitasi yang optimal, cedera engkel berpotensi berkembang menjadi chronic ankle instability, yaitu kondisi ketidakstabilan sendi yang berlangsung lama dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Jika mengalami nyeri dan pembengkakan tidak membaik dalam tiga hari, pergelangan kaki terasa goyah saat berjalan, atau tidak mampu menopang berat badan, segera memeriksakan diri ke dokter,” tutup dr. Chikih.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
