JAKARTA, iNewsTangsel.id -Pengobatan kanker kini semakin modern dan spesifik, membuat peran apoteker onkologi menjadi semakin penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Tidak hanya bertugas menyiapkan obat, apoteker kini menjadi bagian dari tim multidisiplin yang bekerja bersama dokter dan perawat untuk memastikan terapi pasien kanker berjalan aman, efektif, dan sesuai kebutuhan.
Pharmacy Services Department Head MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Apt. Yovita Diane Titiesari mengatakan, terapi kanker saat ini sudah berkembang menuju pengobatan yang lebih spesifik sesuai jenis dan kondisi pasien. Kondisi tersebut menuntut apoteker memiliki kompetensi yang lebih mendalam dibandingkan praktik farmasi umum.
“Dulu obat kanker cenderung sama untuk berbagai jenis kanker. Sekarang terapinya sudah sangat spesifik, sehingga peran apoteker menjadi penting untuk memastikan obat aman, efektif, dan tepat sasaran,” ujarnya, dalam Simposium Oncology Pharmacy dalam rangkaian Siloam Oncology Summit 2026, Minggu (24/5/2026).
Menurutnya, apoteker onkologi memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan penggunaan obat kanker yang sebagian besar berbiaya tinggi dapat digunakan secara tepat dan efisien. Selain itu, apoteker juga membantu pasien memperoleh akses terhadap terapi target yang kini sebagian telah ditanggung BPJS Kesehatan.
“BPJS sudah banyak mengcover terapi target kanker, tetapi memang ada syarat tertentu. Karena itu apoteker harus memahami detail pengobatan agar pasien yang benar-benar membutuhkan bisa mendapatkan terapi sesuai indikasi,” ucap Yovita.
Dalam praktik pelayanan, lanjut dia, setiap resep kemoterapi terlebih dahulu dikaji oleh apoteker sebelum diberikan kepada pasien. Pemeriksaan dilakukan mulai dari ketepatan dosis, jenis pelarut, hingga jadwal pemberian obat berdasarkan kondisi terkini pasien.
“Obat kemoterapi tidak bisa diberikan sembarangan. Semua harus dihitung dan dicek ulang berdasarkan kondisi terbaru pasien,” tegasnya.
Ia menjelaskan, selain memastikan keamanan terapi, apoteker juga melakukan pemantauan efek samping obat selama pasien menjalani pengobatan. Jika ditemukan efek samping tertentu, laporan akan disampaikan kepada dokter dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memperkuat sistem pengawasan keamanan obat di Indonesia.
“Data efek samping pasien Indonesia penting agar BPOM memiliki data yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia,” ungkap Yovita.
Sementara itu, Director, Pharmacy Cancer Network Programs di MD Anderson Cancer Center, Shauna S Choi menambahkan, pendekatan multidisiplin menjadi salah satu kunci utama dalam meningkatkan keselamatan pasien kanker. Di pusat layanan kanker modern, dokter dan apoteker bekerja bersama mendampingi pasien untuk menjelaskan terapi yang akan dijalani, termasuk manfaat obat, efek samping, hingga proses kemoterapi.
“Apoteker akan lebih banyak menjelaskan soal obat, efek samping, jadwal penggunaan, hingga bagaimana proses kemoterapi dijalani pasien,” terangnya.
Shauna menegaskan, pentingnya budaya pelaporan terhadap setiap kejadian yang berpotensi membahayakan pasien di rumah sakit. Sistem pelaporan tersebut, bertujuan untuk mencegah kesalahan serupa terulang kembali.
"Kasus kebocoran botol infus untuk obat kemoterapi yang harus segera dilaporkan karena obat kemoterapi bersifat toksik dan berbahaya. Kalau ada kebocoran sekecil apa pun harus langsung dilaporkan agar tidak membahayakan tenaga kesehatan maupun pasien,” ungkapnya.
Editor : Elva Setyaningrum
