Metode Pengambilan Sampel Mandiri Jadi Langkah Baru Deteksi Dini Kanker Serviks di Indonesia

Elva
dr. Astrid menjelaskan pentingnya deteksi dini dan perkembangan skrining HPV di dunia. (Foto: Elva)

JAKARTA, iNewsTangsel.id - ‎Upaya meningkatkan deteksi dini kanker serviks di Indonesia terus didorong dengan menghadirkan inovasi pemeriksaan Human Papillomavirus (HPV) menggunakan metode self-collection atau pengambilan sampel mandiri. Metode ini memungkinkan perempuan melakukan pengambilan sampel tanpa bantuan tenaga medis menggunakan alat swab khusus, sehingga dinilai lebih nyaman dan mudah diakses.

‎Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fetomaterna, dr. Astrid Fransisca Padang, mengatakan,  metode tersebut telah terbukti secara klinis memiliki tingkat akurasi yang setara dengan pengambilan sampel konvensional oleh tenaga medis. Metode skrining mandiri juga telah mendapat pengakuan global atas efektivitasnya dalam mendukung transformasi layanan kesehatan perempuan di berbagai negara.

‎“Banyak perempuan merasa malu, takut, atau tidak nyaman saat pemeriksaan. Dengan metode ini diharapkan perempuan dapat melakukan skrining dengan lebih nyaman, praktis, dan tetap menjaga privasi sehingga semakin terdorong melakukan deteksi dini secara rutin,” katanya, Minggu (24/5/2026).

‎Ia menjelaskan, pemeriksaan HPV mandiri dilakukan menggunakan metode Real-Time PCR yang dapat mendeteksi 14 genotipe HPV risiko tinggi, termasuk tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab mayoritas kasus kanker serviks di dunia.

‎“Kanker serviks masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama perempuan di Indonesia. Penyakit ini umumnya berkembang tanpa gejala pada tahap awal karena dipicu infeksi HPV risiko tinggi yang sering tidak disadari,” ujar dr. Astrid.

‎Ia mengungkapkan, skrining yang dilakukan pada waktu yang tepat dapat membantu mencegah kanker serviks sekaligus menurunkan angka kematian perempuan akibat penyakit tersebut. Namun, cakupan skrining kanker serviks di Indonesia masih tergolong rendah.

‎“Cakupan skrining kanker serviks di Indonesia baru sekitar 6,7 persen. Angka itu memang meningkat dibanding beberapa tahun lalu yang berada di kisaran 5 persen, tetapi masih jauh dari target pencegahan nasional,” katanya.

‎Menurutnya, keterbatasan akses layanan kesehatan di berbagai daerah masih menjadi hambatan perempuan melakukan deteksi dini.

‎“Indonesia sangat luas dan tidak semua fasilitas kesehatan memiliki layanan pemeriksaan yang memadai. Belum lagi kendala jarak dan waktu,” terangnya.

‎Pada kesempatan yang sama, Direktur Diagnostics Division PT Roche Indonesia, Lee Poh Seng, menambahkan metode tersebut telah menunjukkan hasil yang baik dalam sejumlah studi, termasuk uji coba bersama Kementerian Kesehatan dan sejumlah mitra kesehatan di Surabaya.

‎“Hasilnya menunjukkan 75 persen dari target perempuan berhasil melakukan pemeriksaan mandiri dengan akurasi sampel mencapai hampir 99 persen. Ini membuktikan metode ini efektif membantu mengatasi hambatan psikologis maupun ketidaknyamanan dalam skrining,” pungkas Lee.

Editor : Elva Setyaningrum

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network