Kemendukbangga: Bonus Demografi Terancam, Jika Anak Tumbuh dalam Lingkaran Kekerasan

Elva
Sesmen Kemendukbangga/BKKBN, Prof. Budi Setiyono menegaskan, bonus demografi akan menjadi keuntungan apabila Indonesia memiliki SDM yang sehat. (Foto: Elva)

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Bonus demografi tidak akan menjadi keuntungan jika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kekerasan, tekanan psikologis, dan minim pengasuhan. Karena itu, penguatan peran keluarga dan sekolah sebagai ruang aman bagi anak menjadi langkah penting untuk melahirkan generasi yang sehat, berkarakter, dan berdaya saing.

‎Sekretaris Kementerian/Sekretaris Utama Kemendukbangga/BKKBN, Budi Setiyono mengatakan, bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan apabila didukung oleh SDM yang sehat, berdaya saing, dan memiliki ketahanan mental. Sebaliknya, jika generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang sarat kekerasan dan minim pengasuhan, peluang tersebut justru dapat berubah menjadi beban pembangunan.

‎"Perlu adanya kepastian kualitas SDM yang mumpuni. Kalau SDM dipenuhi ketidakstabilan, kekerasan, dan tidak memiliki daya juang yang positif, hal itu akan berdampak buruk terhadap pemanfaatan bonus demografi," ujar Budi, Kamis (30/7/2026). 

‎Menurutnya, keluarga menjadi benteng pertama yang harus mampu menciptakan lingkungan pengasuhan yang aman agar remaja tidak terjerumus ke dalam berbagai perilaku berisiko seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, hingga tindak kriminal.

‎"Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh satu kementerian saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, sekolah, masyarakat, dan media," tegas Prof. Budi.

‎Sementara itu, Deputi Bidang Kebijakan Strategi Pembangunan Keluarga, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Deputi I), Ukik Kusuma Kurniawan menjelaskan, Indonesia saat ini tengah memasuki puncak bonus demografi, di mana sekitar 60 persen penduduk berada pada usia produktif.

‎"Namun, peluang tersebut dapat hilang apabila kelompok usia produktif justru diwarnai persoalan kesehatan mental, trauma, dan kekerasan. Karena kalitas SDM sangat ditentukan oleh perlindungan terhadap perempuan dan anak yang kita lakukan hari ini," katanya.

‎Berdasarkan data Komnas Perempuan, lanjut Ukik, masih terdapat ratusan ribu kasus kekerasan terhadap perempuan yang sebagian besar terjadi di ranah personal atau keluarga. Sementara data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga menunjukkan kekerasan seksual masih menjadi bentuk kekerasan yang paling banyak dilaporkan.

‎"Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kesehatan mental orang tua maupun anak dan pada akhirnya memengaruhi kualitas pengasuhan serta tumbuh kembang anak. Karena itu, kami mendorong penguatan fungsi keluarga melalui pengasuhan tanpa kekerasan, peningkatan literasi keluarga, edukasi pranikah, pemberdayaan ekonomi perempuan, hingga perluasan layanan konseling keluarga," terangnya. 

‎Pada kesempatan yang sama, Plt. Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga, Yuni Hastutiningsih menambahkan, keluarga berkualitas menjadi fondasi utama dalam membangun generasi yang sehat, aman, dan produktif.

‎"Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya berdampak pada korban secara langsung, tapi juga memengaruhi kondisi psikologis anak sehingga mengganggu proses tumbuh kembang dan menurunkan kualitas SDM di masa depan," ungkapnya. 

‎Menurut Yuni, dari hasil riset sebagian besar masyarakat yang mengalami tekanan psikologis belum mengakses layanan kesehatan mental. Hambatan terbesar bukan semata persoalan biaya, melainkan rendahnya literasi kesehatan mental, rasa malu, dan minimnya dukungan sosial.

‎"Kesehatan mental sering kali menjadi persoalan yang tidak terlihat, padahal dampaknya sangat besar terhadap kualitas pengasuhan dalam keluarga," ujarnya.

‎Yuni menjelaskan, selain keluarga, sekolah juga memiliki peran penting sebagai lingkungan pendukung perkembangan anak. Sekolah saat ini tidak cukup hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tapi juga harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi perkembangan psikologis peserta didik.

‎"Komunikasi antara sekolah dan orang tua perlu diperkuat agar berbagai persoalan yang dihadapi anak, seperti trauma, perundungan, kekerasan di rumah, hingga kesulitan belajar, dapat dikenali sejak dini dan ditangani bersama," tutup Yuni.

Editor : Elva Setyaningrum

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network