TANGERANG, iNewsTangsel.id -Perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis mendorong institusi pendidikan untuk menghadirkan metode pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada teori, tapi juga pengalaman nyata. Salah satu pendekatan yang efektif adalah pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), yang memungkinkan siswa mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Hal itu terlihat dalam gelaran UIC Creative Showcase 2026 yang mempertemukan sekitar 250 siswa dari enam program studi dengan perwakilan institusi pendidikan dan organisasi internasional dari Inggris. Melalui tema “The Great Britain Festival in Indonesia”, para siswa menampilkan berbagai karya kreatif dan proyek multidisiplin yang menghubungkan perspektif global dengan identitas Indonesia.
Director of Marketing & Student Experience USG Education, Ni Luh Komang Aimee Sukesna, menjelaskan, berbeda dengan pembelajaran budaya asing pada umumnya, para siswa tidak hanya mempelajari budaya Inggris sebagai negara asal kurikulum yang digunakan kampus. Mereka justru ditantang untuk mengkritisi, menginterpretasi, dan mengadaptasi berbagai inovasi, budaya, serta praktik global ke dalam konteks Indonesia.
"Kami ingin siswa dapat mengambil inspirasi yang relevan untuk diterapkan dalam pembangunan dan pengembangan potensi Indonesia. Jadi, bagaimana mereka bisa melihat praktik terbaik dari dunia internasional, lalu mengadaptasikannya sesuai kebutuhan Indonesia dengan karya yang berakar pada identitas lokal dengan standar global," ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Dia menjelaskan, mealui proyek yang dikerjakan, siswa menunjukkan bagaimana proses pembelajaran dapat menghasilkan karya yang memiliki relevansi internasional tanpa meninggalkan akar budaya Indonesia. Salah satu contohnya terlihat pada karya siswa Arts and Design yang mengeksplorasi hubungan antara sastra Indonesia dan sastra Inggris dalam satu ruang kreatif.
"Karya tersebut menggambarkan bagaimana dua tradisi budaya yang berbeda dapat saling berdialog dan memperkaya satu sama lain," ungkapnya.
Selain itu, pada program Fashion Design, siswa memadukan inspirasi budaya Inggris dengan karakter visual generasi muda Indonesia. Sementara siswa Graphic Design mengembangkan kampanye kreatif yang mengangkat hubungan antara budaya global dan perspektif lokal. Pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
'Siswa program Computing mengembangkan berbagai proyek digital seperti desain web, media interaktif, hingga Internet of Things (IoT). Di bidang bisnis, para siswa ditantang merancang konsep usaha yang berpotensi memasuki pasar Inggris melalui analisis pasar, strategi pemasaran, dan kampanye digital. Beberapa kelompok bahkan mengangkat produk khas Indonesia sebagai ide bisnis internasional," terangnya.
Melalui proyek tersebut, lanjut Aimee, siswa belajar memahami kebutuhan pasar global sekaligus mempromosikan produk lokal agar memiliki daya saing di tingkat internasional. Pengalaman belajar semacam ini menjadi sarana bagi siswa untuk memahami standar profesional sejak masih berada di bangku pendidikan.
"Mereka tidak hanya menghasilkan karya, tapi juga mempresentasikannya langsung kepada akademisi dan praktisi internasional serta menerima masukan yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan mereka," imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Pearson APAC Regional Manager, Janice Phung menambahkan, pembelajaran yang menghubungkan teori dengan pengalaman nyata mampu membantu siswa membangun portofolio sekaligus mengembangkan pola pikir yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif global.
"Selain menjadi ajang unjuk karya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke berbagai universitas di luar negeri. Pengalaman mempresentasikan hasil kerja di hadapan perwakilan institusi internasional dapat meningkatkan kepercayaan diri sekaligus memperluas wawasan mereka terhadap standar pendidikan global," katanya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
