Menteri Ekraf Dorong Indonesia Jadi Produsen Aplikasi Kelas Dunia

Elva
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya saat membuka, Indonesia Apps Summit 2026, di ICE BSD. (Foto: Elva)

TANGERANG, iNewsTangsel.id - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif  (Kemenekraf/Bekraf) mendorong Indonesia tidak berhenti sebagai pasar bagi industri aplikasi dan ekonomi digital, tapi mampu menjadi produsen teknologi yang melahirkan aplikasi kelas dunia.

‎Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, aplikasi kini telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat, mulai dari belajar, bertransaksi, menikmati hiburan hingga membangun usaha. Karena itu, perkembangan industri aplikasi memiliki kaitan langsung dengan masa depan ekonomi digital Indonesia.

‎“Ketika kita berbicara mengenai industri aplikasi, sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai masa depan ekonomi digital Indonesia,” ujar Teuku Riefky, saat membuka, Indonesia Apps Summit 2026, di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Senin (14/9/2026).

‎Menurut dia, pertumbuhan teknologi menghadirkan peluang ekonomi yang besar. Namun, percepatan tersebut harus diimbangi dengan etika dan tata kelola agar inovasi digital memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

‎"Untuk itu, kami juga mendorong pengembangan sejumlah subsektor teknologi yang dinilai memiliki prospek besar, termasuk kecerdasan buatan (AI), blockchain, Internet of Things (IoT), keamanan siber, dan konten digital," ujarnya.

‎Teuku Riefky menjelaskan, penguatan industri aplikasi juga perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi di dalam negeri. Investasi di sektor berbasis teknologi diharapkan tidak sekadar mendatangkan modal, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat kekayaan intelektual lokal, serta meningkatkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional.

‎“Kita ingin agar nilai ekonominya semakin baik, kontribusi terhadap PDB dan tenaga kerja, serta kekayaan intelektual lokal juga semakin baik,” imbuhnya.

‎Ia menegaskan, pemerintah juga membuka ruang kolaborasi antara pengembang dan pelaku industri digital Indonesia dengan investor internasional maupun mitra dari negara lain.

‎"Targetnya, produk digital karya anak bangsa tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi mampu menembus pasar global," tegasnya.

‎Sementara itu, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen. TNI (Purn.) Nugroho Sulistyo Budi mengungkapkan, di tengah ekspansi industri aplikasi, aspek keamanan siber menjadi tantangan yang tidak bisa dipisahkan dari pengembangan teknologi.

‎"Keamanan harus ditempatkan sebagai fondasi sejak tahap awal pengembangan aplikasi," ucapnya.

‎Menurut dia, aplikasi telah menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat, dunia usaha, dan pemerintahan. Semakin luas penggunaan aplikasi, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan sistem yang digunakan aman dan dapat dipercaya.

‎“Pengembangan aplikasi itu harus diletakkan dalam fondasi yang kuat sehingga aspek keamanan itu bukan pilihan. Aspek keamanan bukan sesuatu yang opsional,” ujarnya.

‎Pada kesempatan yang sama, Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad menilai, besarnya pasar digital Indonesia merupakan modal penting untuk melahirkan inovasi teknologi lokal. Apalagi, nilai ekonomi digital Indonesia pada 2026 telah mendekati USD133 miliar. Dengan basis pengguna internet lebih dari 220 juta orang, Indonesia memiliki pasar sekaligus ruang eksperimen yang besar bagi pengembangan aplikasi.

‎“Jangan hanya menjadi pasar aplikasi saja. Indonesia harus menjadi tempat lahirnya aplikasi kelas dunia,” kata Raffi.

‎Menurut dia, aplikasi tidak bisa dipandang hanya sebagai produk teknologi. Industri aplikasi merupakan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang mempertemukan berbagai profesi, mulai dari pengembang, animator, musisi, kreator hingga pelaku UMKM.
‎Ekosistem tersebut juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru bagi generasi muda.

‎"Sektor ekonomi kreatif saat ini telah menyerap sekitar 27 juta tenaga kerja.
‎Ia pun meminta generasi muda tidak melihat perkembangan AI semata sebagai ancaman terhadap lapangan pekerjaan. Sebaliknya, AI harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan manusia. Karena AI itu dibuat oleh manusia. Jadi manusia harus bersatu dengan teknologi,” ujarnya.

‎Raffi menekankan, pentingnya kolaborasi lintas generasi agar masyarakat mampu mengikuti perkembangan teknologi yang bergerak cepat. Pemerintah, industri, perguruan tinggi, komunitas, dan generasi muda perlu membangun ekosistem bersama agar inovasi tidak berhenti sebagai gagasan.

‎"Apalagi, Indonesia memiliki peluang besar untuk menggunakan pasar domestik sebagai tempat menguji dan mengembangkan solusi digital sebelum dibawa ke pasar internasional. Untuk itu, Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan berani menuju pasar global," tutup Raffi.



Editor : Elva Setyaningrum

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network