TANGERANG SELATAN, iNewsTangsel.id -
Perkembangan teknologi medis terus mendorong peningkatan layanan kesehatan, termasuk dalam penanganan gangguan pada sendi lutut. Salah satu inovasi yang mulai digunakan untuk mendukung tindakan tersebut adalah Robotic Surgical Assistant (Rosa), teknologi yang dirancang membantu dokter melakukan operasi secara tepat dan lebih terukur.
Dokter Spesialis Ortopedi, RS Premier Bintaro, dr. Andito Wibisono mengatakan teknologi robotik tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran dokter. Sebaliknya, teknologi tersebut berfungsi sebagai alat bantu untuk mendukung dokter dalam mengambil keputusan dan menjalankan prosedur berdasarkan perencanaan yang lebih detail.
“Justru teknologi ini hadir sebagai assistant yang membantu kami dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan dengan dukungan data serta perencanaan yang lebih detail,” ujarnya, Rabu (19/8/2026).
Ia menjelaskan, teknologi robotik ini memungkinkan dokter mendapatkan informasi dan pengukuran selama prosedur operasi. Teknologi ini juga membantu menyesuaikan perencanaan tindakan dengan kondisi anatomi masing-masing pasien. Karena setiap pasien memiliki bentuk dan karakteristik lutut yang berbeda.
"Dengan perencanaan yang lebih personal, kami dapat menentukan tindakan dan penempatan implan berdasarkan kondisi pasien," tegasnya.
Selain membantu meningkatkan ketepatan penempatan implan, lanjutnya, teknologi tersebut juga mendukung dokter dalam mencapai keseimbangan sendi sesuai target tindakan.
"Ketepatan dalam proses operasi diharapkan dapat membantu pasien memperoleh fungsi lutut yang lebih optimal setelah menjalani pemulihan," imbuh dr. Andito.
Sementara itu, Dokter Rehabilitasi Medik, dr. Anita Ratnawati menambahkan, penanganan pasien dengan gangguan lutut tidak berhenti pada tindakan operasi. Proses rehabilitasi menjadi bagian penting untuk membantu pasien mengembalikan fungsi lutut dan kembali melakukan aktivitas sehari-hari.
"Program rehabilitasi perlu dipersiapkan sejak sebelum operasi agar pemulihan dapat disesuaikan dengan kondisi dan target aktivitas setiap pasien. Setiap pasien memiliki target aktivitas dan kondisi yang berbeda," katanya.
Menurutnya, kolaborasi antara dokter bedah dan dokter rehabilitasi menjadi salah satu aspek penting dalam penanganan pasien secara menyeluruh. Pendekatan tersebut mencakup persiapan sebelum operasi hingga program pemulihan setelah tindakan.
"Keberhasilan penanganan gangguan lutut tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan selama operasi, tapi juga pada keahlian dokter, kondisi pasien, serta program rehabilitasi yang dilakukan secara berkelanjutan," terang dr. Anita.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
