Pembiayaan UMKM Tembus Rp6,2 Triliun di Tengah Tantangan Ekonomi

Denny Pohan
Suasana pameran UMKM di Jakarta. Foto dok iNews

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menghadapi tantangan di tengah dinamika ekonomi dan ketidakpastian global. Kondisi tersebut membuat akses pembiayaan yang berkelanjutan menjadi penting untuk menjaga kegiatan usaha sekaligus membuka ruang ekspansi.

Kolaborasi antara perbankan dengan berbagai lembaga keuangan turut menjadi salah satu cara memperluas akses tersebut. Jaringan fintech, multifinance, koperasi, dan modal ventura kini ikut berperan dalam menyalurkan pembiayaan kepada pelaku UMKM.

Hingga akhir Juni 2026, sekitar 60 persen dari total kredit Bank Sampoerna atau senilai Rp6,2 triliun telah disalurkan kepada UMKM. Penyaluran secara langsung mencapai Rp5,5 triliun, sedangkan pembiayaan melalui mitra fintech, multifinance, koperasi, dan modal ventura mencapai Rp628,8 miliar.

Di tengah penyaluran tersebut, ekspansi pembiayaan ritel juga terus dilakukan. Salah satunya melalui PDAja.com yang memberikan fleksibilitas kepada nasabah untuk menarik dana sesuai kebutuhan dan membayar bunga berdasarkan plafon yang digunakan, baik untuk pengembangan usaha maupun kebutuhan pribadi.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pembiayaan ketika sektor UMKM masih menghadapi berbagai tantangan. Hingga Juni 2026, total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp10,6 triliun, dengan sebagian besar berasal dari segmen wholesale business.

Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna Henky Suryaputra mengatakan likuiditas yang memadai menjadi salah satu faktor yang mendukung penyaluran kredit. Dana murah atau CASA dari giro dan tabungan mencapai Rp2,6 triliun dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 87,93 persen.

“Bank Sampoerna terus beradaptasi di tengah kondisi ekonomi dan sektor UMKM yang penuh tantangan. Prioritas utama kami adalah menjaga keseimbangan antara pengelolaan risiko dan tingkat kepercayaan masyarakat,” ujar Henky, Minggu (30/8/2026).

Dari sisi kualitas aset, margin bunga bersih (NIM) pada semester I 2026 berada di level 3,95 persen, sementara rasio kredit bermasalah atau NPL gross tercatat 3,57 persen. Angka tersebut berada di bawah rata-rata NPL UMKM industri sebesar 4,54 persen berdasarkan data OJK pada periode yang sama.

Selain pembiayaan, pengembangan ekosistem digital menjadi salah satu fokus pertumbuhan. CEO Bank Sampoerna Ali Yong mengatakan layanan Bank as a Service (BaaS) menjadi salah satu mesin pertumbuhan perseroan.

Sepanjang kuartal II 2026, transaksi BaaS mencapai lebih dari 906 juta transaksi, melonjak 513,39 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sekitar 147 juta transaksi. Sementara volume transaksi hingga akhir Juni mencapai Rp168,7 triliun, tumbuh 187 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Melalui kerja sama strategis berbasis layanan BaaS dengan lebih dari 50 perusahaan fintech, multifinance, koperasi, dan institusi keuangan lainnya, Bank Sampoerna tidak saja memperluas akses layanan perbankan hingga ke pelosok Tanah Air, tetapi juga memperkuat posisi permodalan perusahaan dan kemampuan untuk menyalurkan pembiayaan,” kata Ali.

Menurut Ali, inovasi dan keandalan infrastruktur serta sistem keamanan menjadi faktor penting dalam memperluas pemanfaatan layanan digital bagi UMKM dan masyarakat. Layanan yang banyak digunakan antara lain pembayaran QRIS, virtual account, serta transfer dana host-to-host.

Kinerja tersebut berjalan seiring dengan pencapaian laba bersih setelah pajak sebesar Rp15,9 miliar hingga Juni 2026, meningkat 41,29 persen secara tahunan dari Rp11,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Editor : Hasiholan Siahaan

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network