JAKARTA, iNewsTangsel.id -Pengembangan bisnis di luar sektor komponen otomotif mulai menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan manufaktur komponen otomotif. Salah satunya dilakukan PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) dengan memperluas kegiatan fabrikasi mesin dan peralatan untuk kebutuhan sejumlah sektor industri, termasuk pertanian serta makanan dan minuman.
Direktur Cipta Perdana Lancar Tjoeng Rino Saputra menjelaskan, langkah diversifikasi tersebut mulai dikembangkan sejak semester II 2025 dengan tujuan memperluas portofolio usaha sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap satu segmen industri.
"Bisnis non-otomotif yang dikembangkan mencakup produksi mesin untuk kebutuhan pertanian serta peralatan rumah tangga yang berkaitan dengan sektor pertanian dan industri makanan dan minuman," katanya, Jumat (28/8/2026).
Ia menerangkan, meski memperluas usaha, bisnis komponen otomotif tetap menjadi kegiatan inti. Segmen non-otomotif diarahkan sebagai sumber pendapatan tambahan dengan memanfaatkan kemampuan fabrikasi yang telah dimiliki.
"Strategi tersebut tercermin dalam proyeksi kinerja keuangan 2026. Pendapatan diperkirakan mencapai Rp413,62 miliar, meningkat 11,91 persen dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp369,59 miliar. Sementara itu, laba usaha diproyeksikan mencapai Rp58,39 miliar atau tumbuh 43,74 persen dari Rp40,62 miliar pada 2025," terangnya.
Ia menambahkan, laba bersih juga diperkirakan meningkat 46,18 persen menjadi Rp44,16 miliar dari Rp30,21 miliar pada tahun sebelumnya. Kenaikan laba tersebut diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan.
"Kondisi ini tercermin dari margin laba usaha yang diperkirakan meningkat dari 10,99 persen menjadi 14,12 persen," imbuhnya.
Pihaknya juga memperkirakan margin laba bersih, naik dari 8,17 persen pada 2025 menjadi 10,68 persen pada 2026. Adapun laba per saham atau earnings per share (EPS) diperkirakan mencapai Rp15,49 per saham, dibandingkan Rp11,29 per saham pada 2025.
"Hingga Juni 2026, pendapatan yang telah dibukukan mencapai Rp177,64 miliar dengan laba bersih Rp9,11 miliar. Kontribusi bisnis non-otomotif diperkirakan semakin terlihat pada semester II, terutama mulai kuartal III hingga kuartal IV," ungkapnya.
Ia menambahkan, diversifikasi bukan ditujukan untuk meninggalkan bisnis otomotif, melainkan memperluas sumber pertumbuhan melalui pemanfaatan kemampuan fabrikasi ke sektor lain.
"Selain pertumbuhan pendapatan dan laba, total aset pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai Rp424,34 miliar, meningkat dari Rp335,71 miliar pada akhir 2025. Ekuitas juga diperkirakan naik menjadi Rp234,55 miliar dari Rp184,85 miliar," ucapnya.
Dengan demikian, pengembangan bisnis non-otomotif menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas basis pendapatan dan meningkatkan profitabilitas, di tengah tetap dipertahankannya bisnis komponen otomotif sebagai fondasi utama.
"Kami optimistis strategi diversifikasi usaha ke sektor non-komponen otomotif akan semakin memperkuat kinerja Perseroan sepanjang 2026," pungkasnya.
Editor : Elva Setyaningrum
Artikel Terkait
