Kebutuhan fleksibilitas juga berkaitan dengan target pengembangan tenaga surya Indonesia. Ketika produksi listrik dari tenaga surya berubah mengikuti kondisi matahari, pembangkit yang dapat merespons dengan cepat diperlukan untuk menjaga keseimbangan sistem.
Vice President, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy, Frederic Carron, mengatakan pembangkit berbasis mesin dapat mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit dan menyesuaikan output berdasarkan kebutuhan jaringan.
“Mesin-mesin tersebut dapat dinyalakan dan mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit,” kata Carron.
Kondisi geografis Indonesia turut menjadi tantangan karena sistem kelistrikan tersebar di berbagai pulau dengan karakteristik jaringan yang berbeda. Karena itu, kebutuhan teknologi kelistrikan tidak dapat disamaratakan antara sistem interkoneksi besar, kawasan industri, dan wilayah kepulauan yang terisolasi.
Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pembangkit berkapasitas 135 MW yang dilengkapi 13 mesin dual-fuel Wärtsilä 34DF disebut memasok hampir 40 persen kebutuhan listrik pulau tersebut. Sebagian kapasitasnya juga digunakan untuk membantu penyeimbangan jaringan dan mendukung integrasi 20 MW pembangkit listrik tenaga surya.
Editor : Hasiholan Siahaan
Artikel Terkait
