TANGERANG, iNewsTangsel.id - Ratusan siswa tingkat SD, SMP, dan SMA mengikuti Model United Nations Syafana Islamic School (Munsya) 2026. Kegiatan simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini dibuka langsung oleh mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Hassan Wirajuda.
Munsya 2026 digelar di Gedung Ade Kismantoro Secondary, Syafana Islamic School, selama dua hari, yakni 31 Oktober hingga 1 November 2026.
Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung tema "Navigating the Seas to Safeguard Human Dignity".
Pembukaan acara turut dihadiri diplomat Jepang untuk ASEAN di Jakarta, Mizuki Saito, serta Putri Marisha Faruk, Sekretaris Pertama KBRI yang menyampaikan sambutan melalui tayangan video langsung dari Kopenhagen, Denmark.
Dalam kesempatan tersebut, Hassan Wirajuda mengapresiasi para siswa yang sejak usia sekolah sudah terbiasa mendiskusikan berbagai persoalan internasional.
"Saya menghargai sekali, anak-anak pada tingkat sekolah lanjutan pertama, sudah mulai membiasakan diri untuk membahas isu-isu internasional. Ini luar biasa," kata Hassan, Sabtu (31/10/2026).
Dia mengaku terkesan melihat kemampuan para peserta dalam menggunakan bahasa Inggris serta keberanian mereka membahas isu-isu global yang tergolong kompleks.
Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi gambaran bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
Hassan pun membagikan sejumlah kiat bagi siswa yang bercita-cita menjadi diplomat dan berkarier di dunia internasional. Menurutnya, penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan bahasa asing menjadi dua modal utama yang harus dipersiapkan sejak dini.
"Semua sangat tergantung pada dua. Satu, penguasaan keilmuannya. Makanya saya tekankan tadi kepada para siswa untuk selalu belajar, belajar, belajar. Yang kedua bahasa, bahasa Inggris penting. Tadi bagus-bagus bahasa Inggrisnya," ujarnya.
Selain bahasa Inggris, Hassan juga mendorong generasi muda mempelajari bahasa asing lainnya, seperti Mandarin, Jepang, dan Arab. Kemampuan tersebut dinilai dapat membuka peluang lebih luas di tingkat internasional.
Dia menjelaskan, tantangan generasi muda saat ini berbeda dengan generasi Sumpah Pemuda 1928. Jika saat itu pemuda berjuang membangun identitas dan persatuan bangsa, generasi sekarang menghadapi persaingan yang semakin luas karena keterhubungan global.
Menurutnya, peluang karier generasi muda Indonesia kini tidak hanya terbatas di dalam negeri, tetapi juga terbuka di berbagai negara.
"Itu hal yang ditawarkan dunia, termasuk kepada kita. Lahan kerja profesi Anda itu bukan hanya Indonesia, tetapi juga ASEAN, Jepang, Korea, Eropa, Amerika," tuturnya.
Sementara itu, Managing Director Syafana Islamic School, Nanang Firdaus Masduki, mengaku bangga atas kehadiran Hassan Wirajuda dalam penyelenggaraan perdana Munsya 2026.
Dia menilai pengalaman panjang Hassan di dunia diplomasi dapat menjadi inspirasi bagi para siswa yang ingin meniti karier di tingkat internasional.
Nanang menjelaskan, Hassan mengawali karier diplomatik dari jenjang bawah hingga dipercaya menjadi Duta Besar Indonesia untuk Mesir.
Hassan juga pernah terlibat dalam upaya mediasi perdamaian di Filipina dan Aceh sebelum menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.
Nanang berharap kehadiran tokoh diplomasi tersebut dapat memotivasi para peserta untuk terus mengembangkan kemampuan dan wawasan internasional.
Melalui Munsya 2026, para siswa juga diharapkan terbiasa menghadapi perbedaan pendapat secara dewasa, tanpa harus berujung pada perselisihan.
"Kalau berbeda pendapat itu tidak harus bersinggungan, bermusuhan, tetapi sebagai proses kedewasaan," kata Nanang.
Dia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk membangun kepercayaan diri siswa dalam menyampaikan gagasan, bernegosiasi, serta mempertahankan pendapat ketika berhadapan dengan peserta dari berbagai latar belakang negara.
Munsya 2026 merupakan kompetisi simulasi sidang PBB yang diikuti siswa dari berbagai daerah, termasuk Jabodetabek, Bandung, hingga Lampung.
Dalam kegiatan ini, peserta berperan sebagai diplomat yang mewakili negara-negara tertentu untuk membahas dan mencari solusi atas berbagai persoalan global.
Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar utama dalam menyampaikan gagasan dan argumentasi selama persidangan.
Nanang berharap kegiatan semacam ini dapat melahirkan generasi muda Indonesia yang memiliki wawasan global dan kelak mampu berkiprah sebagai diplomat maupun negosiator di tingkat internasional.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
