Garuda Indonesia: It's Now or Never

Di balik denting mesin dan deru angin yang menyibak awan, tersimpan harapan, sejarah, dan martabat bangsa. Namun kini, Garuda berdiri di tepi jurang ketidakpastian.
Apakah ia akan kembali terbang tinggi atau hilang dalam catatan kelam sebuah kegagalan nasional? Jawabannya hanya satu: It’s now or never.
Sejak awal kelahirannya, Garuda memikul beban simbolik yang luar biasa. Ia adalah etalase Indonesia di mata dunia—sebuah perwujudan pelayanan, kehangatan, dan kesantunan yang tak semua bangsa miliki.
Ketika awak kabinnya tersenyum, itu bukan sekadar keramahan profesional, melainkan representasi budaya. Ketika pesawatnya mendarat mulus di negeri orang, itu adalah penegasan bahwa Indonesia bisa sejajar dengan bangsa manapun.
Namun, tak ada langit yang abadi tanpa badai. Garuda telah melalui fase berat: tekanan finansial, turbulensi pandemi, kompetisi maskapai asing, dan kerentanan tata kelola yang pernah menodai kepercayaannya.
Tapi justru di titik nadir inilah kita mesti bertanya: apakah kita akan membiarkan Garuda jatuh, atau justru memilih untuk menjadi bangsa yang menyelamatkan lambang langitnya sendiri?
Ini bukan sekadar persoalan bisnis dan laporan keuangan. Ini tentang identitas nasional. Tentang keberanian untuk menolak menyerah. Tentang kesadaran kolektif bahwa Garuda adalah wajah Indonesia di angkasa, bukan hanya perusahaan milik negara.
Maka transformasi Garuda haruslah menyentuh yang paling dalam: People. Purpose. Pride. Orang-orang di dalamnya harus dibangun dengan integritas dan semangat baru—bahwa melayani di Garuda adalah ibadah kebangsaan.
Tujuan operasionalnya harus kembali ke ruh semula: bukan sekadar profit, tapi pelayan negara. Dan kebanggaan itu harus dikembalikan—agar setiap seragam dan lambang yang dikenakan menjadi kehormatan, bukan sekadar pekerjaan.
Langit hanya bisa menerima mereka yang jujur pada arah terbangnya. Tidak ada tempat bagi ego sektoral, permainan licik, dan kepentingan sempit. Garuda harus dipimpin oleh jiwa-jiwa negarawan yang tak silau pada laba sesaat, tetapi melihat jauh ke cakrawala bangsa.
Kita tidak butuh penyelamat yang berinvestasi di reruntuhan; kita butuh pemimpin yang percaya bahwa dari puing-puing pun bisa tumbuh kembali kemuliaan.
Garuda adalah jembatan emosi. Ia mempertemukan yang jauh, menyatukan yang tercerai, dan menjadi harapan yang melintas cakrawala. Dalam setiap kursi penumpang, ada kisah cinta, bisnis, kepulangan, dan cita-cita.
Dalam tiap keberangkatannya, ada doa-doa yang menggantung di langit. Jika kita kehilangan Garuda, kita kehilangan lebih dari armada: kita kehilangan bagian dari hati bangsa.
Chairil Anwar pernah menulis, “Sekali berarti, sudah itu mati.” Tapi Garuda tak boleh mati. Ia belum selesai berarti. Selama masih ada ibu-ibu yang menggantungkan harapan anaknya pada langit, selama masih ada merah putih yang berkibar di dada para pejuang langit— maka Garuda harus terus terbang.
Garuda, it’s now or never. Karena ini bukan soal maskapai. Ini soal siapa kita sebagai sebuah bangsa. Dan apa yang kita pilih untuk kita wariskan.
Editor : Hasiholan Siahaan