Musikal Perahu Kertas, Kisah Mimpi dan Cinta yang Kembali Bernyanyi
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kisah Kugy dan Keenan, dua tokoh ikonis dalam novel Perahu Kertas karya Dee Lestari, bersiap berlayar ke medium baru. Indonesia Kaya bersama Trinity Entertainment Network dan Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST) akan menghadirkan cerita legendaris itu dalam format pertunjukan musikal. Mengusung tagline Hidupkan Lagi Mimpi-Mimpi..., Musikal Perahu Kertas dijadwalkan pentas di Ciputra Artpreneur Theater pada 30 Januari hingga 15 Februari 2026, dengan total 21 pertunjukan.
Tak sekadar mengulang romansa, musikal ini menelusuri lebih dalam tema mimpi dan pencarian jati diri. Penonton diajak kembali menyelami perjalanan dua jiwa muda yang sama-sama bertumbuh dalam darah seni: Kugy yang berlindung di balik dunia dongengnya, serta Keenan, pelukis muda yang berusaha lepas dari bayang-bayang ekspektasi sang ayah.
Panggung musikal ini diposisikan bukan sebagai adaptasi mentah, melainkan sebagai wahana imajinatif untuk memperkaya karakter dan emosi cerita. Alya Syahrani, yang memerankan Kugy, mengaku proyek ini memiliki kedekatan personal baginya.
"Perahu Kertas memiliki kedekatan emosional tersendiri buatku, karena berbicara tentang mimpi dan pencarian jati diri. Melalui proses ini, aku kembali diingatkan pada alasan awal aku jatuh cinta pada seni panggung," ujar Alya, Sabtu (24/1/2026).
Sentimen serupa disampaikan Dewara Zaqqi yang dipercaya memerankan Keenan. Ia melihat banyak fragmen hidupnya tercermin dalam karakter tersebut.
"Aku berharap Musikal Perahu Kertas, sebagai panggung musikal kelima dalam perjalanan karierku, dapat membawaku selangkah lebih dekat menuju mimpiku untuk menjadi seorang aktor," katanya.
Lapisan cerita kian kaya dengan kehadiran tokoh pendukung seperti Remi yang diperankan Christoffer Nelwan dan Luhde yang dimainkan Marsha Lavinia. Bagi Marsha, memerankan Luhde menjadi debut yang membuka perspektif barunya sebagai performer.
"Luhde digambarkan sebagai sosok yang mendukung dan membantu Keenan menemukan kembali jalan menuju mimpi-mimpinya," ujarnya.
Di balik layar, tim produser Billy Gamaliel, Eunike Elisaveta, dan Chriskevin Adefrid memastikan standar artistik tinggi dalam setiap detail. Billy menegaskan bahwa proyek ini adalah bagian dari komitmen untuk memperkuat ekosistem seni pertunjukan Indonesia.
"Kami ingin memberi ruang bagi para pelaku seni untuk bertumbuh, sekaligus menegaskan bahwa seni pertunjukan layak terus hidup dan berkembang," kata Billy.
Inovasi panggung menjadi salah satu daya tarik utama. Chriskevin Adefrid menjelaskan bahwa musikal ini akan menggunakan set panggung dinamis dan berputar, bukan sekadar sebagai simbol, melainkan sebagai pengalaman visual yang konkret.
"Sesuatu yang unik dan jadi experience baru di Indonesia. Metafora juga iya, setiap pilihan karakter, set-nya akan berputar, nggak akan dibikin transisi scene, akan jadi pengalaman nggak terlupakan saat nonton," tuturnya.
Elemen imajinatif juga dihadirkan lewat penggunaan puppets atau teater boneka. Menurut Chriskevin, pendekatan ini menjawab tantangan kreatif mengalihwahanakan novel ke panggung. "Puppet ini menjawab berbagai challenge kreatif buku jadi panggung, sangat imajinatif. Gimana puppets dan elemen kostum menghidupkan unsur kreatif. Full of attractions. Kita punya teater yang luar biasa, mumpuni, dan sanggup bersaing," sambungnya.
Dengan 21 lagu yang mengiringi narasi, penonton akan dibawa masuk ke semesta Kugy dan Keenan secara emosional. Sistem alternate cast dan kehadiran swing performer juga disiapkan untuk menjaga stamina para pemain selama rangkaian pementasan.
Adaptasi ini memadukan musik, sastra, dan teater dalam satu perjalanan panggung yang hangat dan relevan. Sebanyak 21 pertunjukan Musikal Perahu Kertas ditargetkan dapat disaksikan lebih dari 23.000 penonton—menjadi saksi bagaimana sebuah perahu kertas kembali berlayar, kali ini di atas panggung teater.
Editor : Hasiholan Siahaan