get app
inews
Aa Text
Read Next : Nyeri Dada Kiri Akibat Gerd atau Jantung Tersumbat, Ini Perbedaan Keduanya

Bayi Sering Gumoh, Belum Tentu Alami Gangguan Lambung

Rabu, 04 Februari 2026 | 21:50 WIB
header img
Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, Prof. dr. Badriul Hegar, saat memaparkan Regurgitasi, GER, dan GERD pada anak. Foto Elva

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Gumoh (regurgitasi) pada bayi sering kali membuat orang tua khawatir dan mengira anaknya mengalami gangguan lambung. Padahal kondisi ini pada umumnya bersifat normal dan tidak berbahaya, terutama pada bayi usia di bawah satu tahun.

Demikian dikatakan Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi RS Premier Bintaro, Prof. dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), dalam forum kesehatan bertema “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan”, di Jakarta, Rabu (4/2/2026). 

Prof. Badriul menjelaskan, bayi usia satu bulan dapat mengalami gumoh hingga tiga sampai empat kali sehari. Frekuensinya bahkan bisa meningkat hingga usia tiga sampai empat bulan, lalu berangsur menurun dengan sendirinya seiring bertambah usia dan pematangan sistem pencernaan.

“Gumoh ini disebut refluks fisiologis, yaitu refleks alami dan tidak berbahaya selama bayi tetap aktif, tumbuh baik, dan tidak menunjukkan gejala berat. Gumoh berbeda dengan muntah dan tidak perlu langsung dianggap sebagai penyakit,” terangnya.

Dia menerangkan, di masyarakat, masih beredar anggapan, bayi yang mendapat ASI eksklusif lebih sering gumoh dibanding bayi yang diberi susu formula. Padahal itu tidak terbukti secara ilmiah.

“Hasil penelitian menunjukkan, bayi yang mendapat ASI eksklusif tidak lebih sering mengalami gumoh berlebihan dibanding bayi yang mendapat ASI parsial atau susu formula. Justru, ASI lebih cepat dicerna dan membantu pengosongan lambung lebih baik. ASI eksklusif juga menurunkan risiko alergi,” paparnya. 

Prof. Badriul menegaskan, agar orang tua tidak langsung menganggap gumoh sebagai GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Padahal data menunjukkan, refluks normal yang dialami hingga 80 persen bayi usia satu bulan. Namun yang berkembang menjadi GERD hanya sekitar 3%.

“GERD terjadi bila asam lambung terlalu sering atau terlalu lama naik ke kerongkongan hingga menyebabkan iritasi dan kerusakan. Kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi seperti nyeri saat makan, perdarahan, anemia, hingga gangguan pertumbuhan,” ungkapnya. 

Dia menerangkan, tubuh bayi telah memiliki mekanisme perlindungan alami. Kerongkongan bayi dilapisi zat pelindung yang berfungsi sebagai benteng terhadap asam lambung. Selain itu, refleks menelan membantu membersihkan asam agar tidak menetap lama di kerongkongan.

“Inilah sebabnya mengapa meskipun gumoh sering terjadi, hanya sedikit bayi yang benar-benar mengalami GERD hingga gangguan serius,” ulasnya.

Editor : Elva Setyaningrum

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut