get app
inews
Aa Text
Read Next : Pedagang Pasar Jungke Ngadu ke Puan: Harga Telur Tembus Rp26 Ribu per Kilogram  

Warga Tigaraksa Resah, Harga Ayam dan Cabai Meroket

Jum'at, 27 Februari 2026 | 17:57 WIB
header img
Seorang pedagang ayam boiler sedang melayani pelanggan. (Foto: Istimewa).

TANGERANG, iNewsTangsel.id - Lonjakan harga kebutuhan pokok saat Ramadan membuat warga Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, kian resah. Harga ayam boiler melonjak hingga Rp33.000 per kg dan cabai rawit merah terus meroket mencapai Rp170.000 per kg. Hingga kini, harganya belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

“Selain ayam dan cabai, harga telur ayam juga ikut merangkak naik hingga Rp30.000 per kg. Kondisi ini membuatnya kewalahan mengatur pengeluaran dapur karena harga bahan pangan melonjak cukup tajam,” seorang ibu rumah tangga, Tutik, Jumat (27/2/2026). 

Menurutnya, memasuki awal Ramadan semuanya sudah mahal, apalagi nanti mendekati Lebaran. Adapun bahan pangan yang sering mengalami lonjakan, di antara cabai, telur, ayam dan daging.

“Saya terpaksa mengurangi jumlah belanja atau mengganti menu harian dengan bahan yang lebih terjangkau,” terangnya. 

Dia berharap, dengan adanya kenaikan sejumlah bahan pangan, Pemerintah Kabupaten Tangerang dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. 

“Kalau bisa, ada operasi pasar atau solusi lain supaya harga kembali normal,” tegas Tutik.

Sementara itu, salah satu pedagang ayam, Narto di Pasar Tigaraksa, membenarkan adanya kenaikan harga ayam boiler. Biasa, harga normal di kisaran Rp28.000 per kg, tapi sekarang naik menjadi Rp33.000 per kg. 

“Harga lagi belum stabil. Untuk ayam dengan bobot tertentu, harga jual pun ikut melonjak. Ayam berbobot 1,2 kg dijual Rp40.000, 1,3 kg Rp43.000, 1,4 kg Rp46.000, hingga 1,5 kg Rp50.000. Biasanya mendekati Lebaran, harga akan naik lagi,” ujarnya. 

Dia mengungkapkan, kenaikan harga turut berdampak pada jumlah pembeli. Jika biasanya lapaknya ramai, kini pembeli cenderung berkurang karena daya beli masyarakat menurun.

“Tapi masih ada sebagian memilih membeli dalam jumlah lebih sedikit, bahkan ada yang menunda pembelian,” tutup Narto. 

Editor : Elva Setyaningrum

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut