Rifky Assamady Soroti Pentingnya Runtuhkan Silo Mentality Lewat Sinergi Manajemen Risiko
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Manajemen risiko bukan lagi sekadar tumpukan dokumen atau formalitas pemenuhan regulasi. Di tengah ketidakpastian bisnis yang kian kompleks, maka harus bertransformasi menjadi budaya kerja dan pola pikir yang mendarah daging bagi setiap individu dalam organisasi.
Hal ini disampaikan Ketua Umum Asosiasi Manajemen Risiko Energi Indonesia (AMREI) Rifky Assamady saat memberi sambutan dalam acara Training Nasional Let's Play Risk Culture Boardgame & MRPN Awareness pada Rabu, 1 April 2026 di Jakarta.
Kegiatan ini digelar sebagai upaya penguatan kesadaran Manajemen Risiko Pembangunan Nasional (MRPN) dengan mengacu pada regulasi terbaru, yakni Per-01/MBU/2023 dan Perpres 39/2023.
Rifky Assamady mengatakan, setiap insan perusahaan didorong untuk memiliki rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat serta kepekaan tinggi terhadap potensi krisis (sense of crisis). Nah ini adalah bagian langkah awal menerapkan manajemen risiko
"Sebagai proses berpikir, manajemen risiko menuntut komitmen kolektif agar perusahaan tetap konsisten di jalur pencapaian tujuannya. Dengan pengelolaan risiko yang tepat, setiap keputusan strategis yang diambil akan jauh lebih matang dan terukur," kata dia.
Tantangan global saat ini, lanjut Rifky Assamady, mulai dari dinamika geopolitik hingga ancaman lingkungan, mengharuskan perusahaan untuk bertindak lebih serius. Tujuannya jelas, agar mampu bertahan (survive) dan jauh lebih tangguh (resilience).
Sementara salah satu kunci keberhasilannya adalah keberanian menentukan prioritas pada program kerja yang berdampak besar (high impact) namun tetap efisien dari segi biaya (low cost).
Dalam konteks ini, AMREI hadir memegang peran vital sebagai mitra penasihat strategis (strategic advisory partner). Lebih dari sekadar penghubung, AMREI menjadi fasilitator yang menjembatani komunikasi lintas institusi serta pemberi rekomendasi kebijakan yang tajam dan berbasis data analitis.
Rifky Assamady mengingatkan bahwa pendekatan ini mendorong pergeseran gaya kepemimpinan dari reaktif menjadi antisipatif (anticipatory governance). Dengan tata kelola ini, risiko fiskal dapat dikendalikan sejak dini dan krisis bisa diredam sebelum meledak. Selain itu, sinergi lintas fungsi diperkuat guna meruntuhkan sekat-sekat ego sektoral (silo mentality) yang sering menghambat kemajuan.
"Manajemen risiko sejatinya selaras dengan prinsip kehidupan dan nilai religi. Di dalamnya terkandung nilai istiqomah atau konsistensi, kejujuran, serta tanggung jawab. Sikap rendah hati (humble) untuk terus belajar dari kesalahan menjadi fondasi utama dalam membangun budaya risiko yang sehat," bebernya.
Penguatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Manajemen risiko harus melahirkan perubahan perilaku nyata, membangun organisasi yang adaptif, dan menjamin keberlanjutan perusahaan di masa depan.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta