Integrasi Teknologi AI dan Program Dampak Sosial Jadi Kunci Keberlanjutan Bisnis Masa Depan
JAKARTA, iNewsTangsel - Daya saing sebuah perusahaan di tengah lanskap bisnis modern saat ini tidak lagi hanya bergantung pada kualitas produk atau layanan semata. Kemampuan beradaptasi melalui pemanfaatan kecerdasan buatan serta tanggung jawab sosial menjadi pilar utama untuk menjaga relevansi bisnis.
Pemanfaatan teknologi tersebut membuka peluang yang sangat luas bagi pelaku industri untuk menciptakan efisiensi, akurasi, dan personalisasi produk. Perubahan perilaku konsumen yang dinamis menuntut dunia usaha agar mampu bergerak lebih cepat dalam menghadirkan solusi yang solutif.
Dalam seminar Infobrand Forum 2026 yang mengusung tema “AI-powered Innovation: For Faster, Cheaper, and Impactful Product Innovation,” di Jakarta, baru-baru ini, akademisi sekaligus Peneliti Global Business Marketing dari BINUS Business School & Founder Inspark Indonesia, Dr. Wahyu Tri Setyobudi, MM, ATP, CPM, menjelaskan bahwa adopsi teknologi mutakhir merupakan sebuah keharusan di era disrupsi.
"Pemanfaatan AI dalam proses inovasi produk dan layanan membuka peluang luar biasa untuk efisiensi, akurasi, dan personalisasi yang belum pernah ada sebelumnya," ujar Dr Wahyu, dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).
Langkah mengintegrasikan teknologi ke dalam strategi perusahaan diharapkan tidak hanya mempercepat proses produksi di dalam internal manajemen saja. Strategi ini juga harus diarahkan agar mampu menciptakan dampak yang jauh lebih besar dan nyata bagi konsumen serta pasar luas.
Di samping aspek teknologi, komitmen perusahaan terhadap isu sosial juga memegang peranan penting dalam membangun hubungan jangka panjang dengan publik. Salah satu inisiatif sosial yang dinilai memiliki dampak masif adalah penyediaan program mudik gratis saat momentum hari raya.
Program kepedulian tersebut dinilai sangat relevan mengingat pergerakan jutaan masyarakat yang melakukan tradisi mudik ke kampung halaman setiap tahunnya. "Data Kementerian Perhubungan memperkirakan 80 juta orang mengikuti tradisi mudik Lebaran setiap tahunnya," ungkap praktisi media bisnis, Susilowati Ningsih.
Di sisi lain, proses penilaian terhadap pencapaian inovasi dan program sosial perusahaan perlu dilakukan secara terukur berdasarkan parameter yang objektif. Penilaian untuk aspek inovasi produk umumnya didasarkan pada keunggulan gagasan, manfaat operasional, hingga diferensiasi produk di pasar.
Sementara itu, evaluasi terhadap program kepedulian sosial dihitung melalui publikasi resmi serta dampak riil yang dirasakan oleh masyarakat luas. Keseimbangan antara pertumbuhan profit, adopsi teknologi, dan kontribusi sosial pada akhirnya menjadi fondasi bagi masa depan bisnis yang tangguh.
Editor : Aris