Kesadaran Skrining Kesehatan Perempuan Indonesia Masih Rendah
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Kesadaran perempuan Indonesia untuk melakukan skrining kesehatan secara rutin masih tergolong rendah. Banyak yang baru memeriksakan diri setelah muncul keluhan, padahal sejumlah penyakit dapat dideteksi lebih awal melalui pemeriksaan yang tepat.
Data Globocan tahun 2020 menunjukkan kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Setiap tahun tercatat sekitar 36.000 kasus baru dengan lebih dari 20.000 kematian. Ini menandakan pentingnya peningkatan edukasi dan akses terhadap skrining kesehatan.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Prof. dr. Hariyono Winarto mengungkapkan, perempuan juga perlu mewaspadai risiko infeksi menular seksual yang sering kali tidak menunjukkan gejala. Karena banyak perempuan belum menyadari, infeksi menular seksual, termasuk HPV, dapat terjadi tanpa gejala.
"Karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan yang tepat menjadi langkah penting agar kondisi dapat dikenali lebih awal. Selain skrining, menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat dan nutrisi seimbang juga berperan dalam menurunkan risiko berbagai masalah kesehatan perempuan,” ujar Prof. Hariyono, Rabu (22/4/2026).
Sementara itu, Dr. Rina Triana menyoroti pentingnya peran pemeriksaan laboratorium dalam membantu perempuan memahami kondisi kesehatannya sejak dini. Karena pemeriksaan laboratorium memiliki peran penting dalam membantu perempuan memahami kondisi kesehatannya, bahkan sebelum gejala muncul.
"Kini, dengan inovasi tes HPV DNA yang dapat dilakukan secara mandiri, perempuan memiliki pilihan layanan yang lebih praktis, nyaman, dan tetap akurat sesuai kebutuhannya. Diharapkan, semakin banyak perempuan tidak menunda deteksi dini,” terang Dr. Rina.
Pada kesempatan yang sama, perwakilan dari Prodia, Mona Yolanda, menambahkan, perkembangan teknologi laboratorium saat ini juga memungkinkan skrining dilakukan. Sejumlah pemeriksaan mulai banyak direkomendasikan, seperti tes HPV DNA untuk mendeteksi virus penyebab kanker serviks serta pemeriksaan infeksi menular seksual (IMS) yang kerap tidak bergejala.
"Biasanya skrining dilakukan dengan pendekatan yang lebih modern melalui pemeriksaan berbasis molekuler. Metode ini bekerja dengan menganalisis materi genetik seperti DNA untuk mendeteksi virus, infeksi atau faktor risiko penyakit sejak tahap awal, bahkan sebelum gejala muncul. Hasilnya pun lebih akurat dan dapat membantu tenaga medis memberikan rekomendasi pencegahan yang lebih tepat," terangnya.
Editor : Elva Setyaningrum