get app
inews
Aa Text
Read Next : Glasses of Hope: Upaya Nyata untuk Penglihatan Anak Indonesia

Miopia pada Anak Perlu Diwaspadai, Risiko Bisa Berlanjut hingga Dewasa ‎

Selasa, 28 April 2026 | 18:07 WIB
header img
?Dokter spesialis mata melakukan pemeriksaan menggunakan alat. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Miopia atau rabun jauh pada anak menjadi salah satu masalah kesehatan mata yang kian meningkat dan perlu mendapat perhatian serius. Jika tidak ditangani dengan baik sejak dini, kondisi ini dapat berlanjut hingga dewasa dan meningkatkan risiko komplikasi yang lebih berat.

‎Ketua Indonesian Refraction and Vision Optimization Society (Inarvos) dr. Susanti Natalya Sirait mengungkapkan, data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sekitar 3,6 juta anak di Indonesia mengalami kelainan refraksi miopia. Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah seiring pertumbuhan anak serta perubahan pola aktivitas, seperti meningkatnya penggunaan perangkat digital dan berkurangnya aktivitas luar ruangan.

‎"Miopia yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko gangguan serius, seperti kelainan retina, glaukoma, hingga katarak. Oleh karena itu, pemeriksaan mata secara rutin, terutama untuk anak usia sekolahb menjadi langkah penting untuk mendeteksi gangguan sejak awal," katanya, Selasa (28/4/2026). 

‎Sementara itu, Marketing Manager Menicon Indonesia, Carolina Fenny, menambahkan, pihaknya pun memperkenalkan lensa Orthokeratology (Ortho-K), yaitu lensa kontak khusus berbahan rigid gas permeable dengan transmisi oksigen tinggi dan desain reverse geometry. 

‎"Teknologi ini sebagai salah satu inovasi dalam terapi koreksi penglihatan. Tentunya, penggunaan lensa ini harus melalui resep dan konsultasi dengan dokter mata," terangnya. 

‎Pada kesempatan yang sama, dokter spesialis mata dr. Tri Rahayu menjelaskan, selain penggunaan kacamata atau lensa kontak, sejumlah metode pengendalian miopia juga terus dikembangkan. Salah satunya penggunaan lensa khusus, seperti lensa Ortho-K yang merupakan pilihan untuk miopia. 

‎"Lensa ini digunakan saat tidur pada malam hari dengan tujuan membantu meratakan bagian tengah kornea secara sementara, sehingga dapat mengoreksi kelainan refraksi miopia hingga tingkat tertentu," ujar dr. Tri 

‎Dipaparkan, lensa ini bekerja dengan metode ini bekerja melalui tekanan kelopak mata dan desain khusus lensa yang membantu memfokuskan cahaya langsung ke retina. Namun, penggunaannya harus melalui pemeriksaan dan pengawasan dokter spesialis mata.

‎"Dengan penggunaan pada malam hari, pasien dapat memperoleh penglihatan yang lebih jelas pada siang hari tanpa menggunakan kacamata atau lensa kontak," ucapnya. 

‎Ditegaskan, penanganan miopia tidak bisa dilakukan secara tunggal. Diperlukan pendekatan komprehensif, mulai dari pemeriksaan rutin, pengaturan waktu penggunaan gawai, hingga peningkatan aktivitas di luar ruangan. 

‎"Dengan penanganan yang tepat sejak dini, risiko komplikasi akibat miopia dapat ditekan," imbuhnya. 

Editor : Elva Setyaningrum

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut