get app
inews
Aa Text
Read Next : 3.500 Peserta Antusias Ikuti Aksi Sehat, Dinkes Dorong Masyarakat Kendalikan Berat Badan

Studi: Terapi Obesitas Berkorelasi dengan Penurunan Konsumsi Alkohol dan Rokok

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:10 WIB
header img
Ikustrasi terapi obesitas menggunakan obat golongan GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA). Foto Ist

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Sebuah studi berbasis data nyata menemukan adanya korelasi antara terapi obesitas menggunakan obat golongan GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) dengan penurunan konsumsi alkohol dan rokok di tingkat rumah tangga. Temuan ini dipaparkan Novo Nordisk dalam forum ilmiah internasional ObesityWeek yang digelar di Atlanta, Amerika Serikat, pada akhir 2025, lalu. 

Analisis dilakukan terhadap data pengeluaran belanja lebih dari 200 ribu rumah tangga selama dua periode 12 bulan. Hasilnya menunjukkan, rumah tangga yang memiliki satu anggota pengguna terapi GLP-1 RA untuk pengelolaan berat badan mencatat penurunan pengeluaran tahunan dibandingkan rumah tangga tanpa pengguna terapi serupa. 

“Penurunan paling menonjol terlihat pada belanja alkohol dan produk tembakau. Data tersebut memberi indikasi, penanganan obesitas berkaitan dengan perubahan perilaku konsumsi yang lebih sehat,” demikian disampaikan dalam paparan studi tersebut, dikutip, Selasa (13/1/2026). 

Chief Medical Officer Novo Nordisk, Dr. Filip K. Knop mengungkapkan, temuan tersebut memperluas pemahaman mengenai dampak terapi obesitas di luar penurunan berat badan.

“Hasil ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan berkurangnya food noise, yakni dorongan mental untuk terus makan, pada individu dengan obesitas yang menjalani terapi serupa,” katanya. 

Sementara itu, Clinical, Medical, Regulatory Director Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, menambahkan, di Indonesia, obesitas terus menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Data kesehatan terkini menunjukkan sekitar satu dari empat orang dewasa hidup dengan obesitas atau kelebihan lemak di area perut. 

“Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular, yang berdampak pada kualitas hidup serta beban ekonomi keluarga,” terangnya. 

Dia menegaskan, untuk itu pentingnya memandang obesitas sebagai kondisi medis yang kompleks dan membutuhkan bantuan. Karena masih banyak masyarakat yang memandang obesitas sebagai kegagalan personal. 

“Kami berharap, masyarakat Indonesia semakin melihat obesitas sebagai kondisi yang bisa dan perlu ditangani secara serius, dengan dukungan dokter dan terapi yang tepat, bukan dengan menyalahkan diri sendiri,” ujarnya. 

Menurut dia, tidak ada seorang pun yang harus menghadapi obesitas sendirian. Melalui edukasi yang tepat dan akses ke informasi yang bisa dipercaya dapat mendorong perubahan dalam penanganan obesitas di Indonesia.

“Dengan pendekatan medis yang tepat, termasuk edukasi dan pendampingan tenaga kesehatan, menjadi kunci dalam penanganan obesitas yang berkelanjutan,” imbuhnya.

Editor : Elva Setyaningrum

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut