Kemenaker: 9,58 Juta Anak Muda Belum Bekerja dan Mengikuti Pelatihan
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Tingginya jumlah generasi muda Indonesia yang belum bekerja dan tidak mengikuti pendidikan maupun pelatihan di tengah pertumbuhan ekonomi digital nasional terus berkembang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 terdapat sekitar 9,58 juta anak muda yang masuk kategori not in education, employment, and training (NEET).
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Afriansyah Noor mengungkapkan, kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi Indonesia yang saat ini tengah memasuki periode bonus demografi. Generasi muda yang seharusnya menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dinilai masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan, pelatihan keterampilan, dan lapangan kerja.
“Di balik angka itu ada persoalan yang harus menjadi perhatian bersama, mulai dari keterbatasan keterampilan digital, akses pelatihan yang belum merata, hingga hambatan yang dihadapi perempuan dan penyandang disabilitas untuk masuk ke dunia kerja,” kata Afriansyah, saat peluncuran program “Andal” atau Anak Muda untuk Dunia Kerja dan Wirausaha Digital Inklusif, Selasa (26/5/2026).
Ia mengungkapkan, perkembangan ekonomi digital Indonesia sebenarnya membuka peluang kerja yang cukup besar, terutama di sektor perdagangan elektronik, teknologi finansial, media digital, dan ekonomi kreatif. Indonesia bahkan diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara.
"Namun peluang tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena masih rendahnya kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan kebutuhan industri. Untuk mengatasi persoalan tersebut, kami terus memperkuat transformasi pelatihan vokasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan perkembangan teknologi," paparnya.
Sementara itu, Chief Operating Officer YCAB Foundation, Linda Sukandar menambahkan, tingginya angka anak muda yang belum bekerja dapat berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi apabila tidak segera diatasi. Karena investasi pada peningkatan kualitas generasi muda menjadi faktor penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Ketika semakin banyak anak muda yang produktif dan siap kerja, maka kontribusi terhadap perekonomian nasional juga akan semakin besar,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan keterampilan digital, literasi keuangan, dan akses terhadap dunia industri menjadi kebutuhan utama agar generasi muda mampu bersaing di tengah transformasi ekonomi berbasis teknologi.
"Untuk itu, program ini hadir tidak hanya membantu anak muda mencari pekerjaan, tetapi juga membuka peluang membangun penghasilan melalui kewirausahaan digital," ucap Linda.
Diterangkan, program Andal hadir sebagai kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dengan menargetkan 2.500 anak muda di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah hingga 2028, dengan fokus pada perempuan muda dan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.
"Pesertanya akan mendapatkan pelatihan keterampilan teknis dan soft skill, literasi keuangan, akses ke jaringan industri, hingga pendampingan memasuki dunia kerja dan ekonomi digital. Program tersebut juga mengedepankan aspek keamanan dan inklusivitas melalui pendekatan perlindungan sosial dan edukasi pencegahan kekerasan serta pelecehan di lingkungan kerja," imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Country Head of Public Affairs Citi Indonesia Hario Widyananto mengungkapkan, kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan organisasi sosial menjadi kunci dalam memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda, khususnya perempuan dan penyandang disabilitas.
"Pemberdayaan perempuan menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi karena perempuan memiliki peran besar dalam penguatan ekonomi keluarga dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sehingga semakin banyak generasi muda Indonesia yang mampu memasuki dunia kerja digital, meningkatkan produktivitas, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru melalui kewirausahaan berbasis teknologi," tutup Hario.
Editor : Elva Setyaningrum