Pengurangan Emisi Metana Sektor Migas Jadi Langkah Strategis Pengendalian Perubahan Iklim
JAKARTA. iNewsTangsel.id -– Langkah pengurangan emisi metana di sektor minyak dan gas bumi dinilai menjadi salah satu strategi paling efektif dan cepat untuk mendukung pengendalian perubahan iklim sekaligus meningkatkan daya saing investasi energi Indonesia.
Hal tersebut mengemuka dalam sebuah diskusi media mengenai pengelolaan emisi metana yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan ahli dan organisasi internasional di Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Chief Operating Officer sekaligus Peneliti di ECADIN, Candra Sutama, menjelaskan bahwa metana merupakan gas rumah kaca dengan dampak pemanasan yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek.
Efek pemanasan metana diperkirakan sekitar 80 kali lebih kuat dalam periode 20 tahun, dan gas ini telah berkontribusi terhadap hampir sepertiga dari total pemanasan global yang terjadi sejak revolusi industri.
Menurut Candra, meskipun sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar emisi metana di Indonesia, sektor minyak dan gas bumi menjadi prioritas utama karena dinilai lebih mudah dikendalikan dan dipantau. Sektor minyak dan gas bumi memiliki jumlah operator yang relatif terbatas serta didukung oleh kesiapan teknologi dan metode pengukuran yang jauh lebih maju. Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, pengurangan emisi metana juga menguntungkan secara ekonomi karena gas yang selama ini bocor dapat ditangkap untuk kemudian dimanfaatkan dan dijual kembali.
Senada dengan hal tersebut, Lead Coordinator dari UN Environment Programme's International Methane Emissions Observatory, Monica Bergeron, menegaskan bahwa penanganan metana kini menjadi prioritas aksi iklim global karena mampu memberikan dampak instan terhadap perlambatan pemanasan global. Metana hanya bertahan sekitar 10 tahun di atmosfer, berbeda dengan karbon dioksida yang mengendap hingga ratusan tahun, sehingga manfaat dari pengurangannya akan dirasakan jauh lebih cepat oleh bumi.
Monica menambahkan, jika target Global Methane Pledge untuk memangkas emisi metana sebesar 30 persen berhasil dicapai, maka kenaikan suhu global dapat ditekan sekitar 0,2 derajat Celsius. Angka tersebut sangat signifikan mengingat saat ini bumi telah mengalami kenaikan suhu sekitar 1,2 derajat Celsius dibandingkan dengan era pra-industri. Pengurangan emisi ini juga membawa manfaat tambahan seperti peningkatan kualitas udara, kesehatan masyarakat, efisiensi operasional industri, hingga penguatan ketahanan energi.
Terkait implementasi di lapangan, Monica menjelaskan peran Oil and Gas Methane Partnership 2.0 yang kini beranggotakan sekitar 160 perusahaan dari 90 negara dan mewakili hampir separuh produksi minyak dan gas dunia. Sejumlah perusahaan yang beroperasi di Indonesia, seperti Pertamina, Medco Energy, BP, ENI, hingga Chevron, telah terlibat dalam inisiatif ini. OGMP 2.0 mendorong industri untuk beralih dari metode perhitungan emisi berbasis estimasi menuju pengukuran langsung di lapangan guna mendeteksi dan mengurangi emisi dari sumber-sumber utama secara akurat.
Lebih lanjut, Candra Sutama menekankan bahwa transparansi pengelolaan emisi metana kini semakin memengaruhi daya tarik investasi global. Banyak investor internasional dan negara pengimpor energi seperti Jepang, Korea Selatan, serta negara-negara Eropa mulai menjadikan komitmen pengurangan emisi sebagai indikator utama dalam pengambilan keputusan investasi. Uni Eropa bahkan telah menerapkan aturan ketat mengenai pelaporan emisi metana terhadap produk minyak dan gas yang diimpor dari negara lain.
Melihat perkembangan global tersebut, Candra mendorong perlunya penguatan regulasi nasional di Indonesia, mengingat sebagian besar komitmen yang ada saat ini masih bersifat sukarela. Ia mencontohkan keberhasilan Norwegia yang telah menerapkan regulasi pengendalian emisi metana sejak era 1970-an, serta Kanada yang menerapkan target ketat untuk memangkas emisi sektor energi. Menurutnya, kombinasi antara regulasi yang kuat, pengukuran langsung di lapangan, dan pemanfaatan gas bocor akan memberikan keuntungan ganda bagi ekonomi dan lingkungan.
Dari sisi komunikasi, Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia, Glory Oyong, menilai peran opini publik sangat strategis dalam mendorong perhatian pemerintah terhadap isu ini. Ia menyatakan bahwa pengambil kebijakan senantiasa memperhatikan aspirasi masyarakat yang berkembang di media massa maupun forum diskusi. Peningkatan kesadaran publik mengenai mitigasi metana diharapkan dapat mempercepat lahirnya kebijakan dan insentif yang mendukung pengurangan emisi di sektor energi nasional.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar