Pelatihan Bisnis Digital Dorong Ratusan Kaum Difabel dan Kelompok Rentan Mandiri Finansial
JAKARTA, iNewsTangsel - Diskriminasi dalam dunia kerja konvensional rupanya masih menjadi permasalahan yang menyelimuti kelompok disabilitas dan pekerja migran purna untuk meraih kemandirian ekonomi. Minimnya penyerapan tenaga kerja formal bagi kaum berkebutuhan khusus memicu lahirnya gerakan afirmatif berbasis teknologi untuk mendobrak keterbatasan.
Memanfaatkan penetrasi internet yang kian merata, sebuah platform niaga lokal asal Bandung, Evermos menginisiasi program inkubasi digital khusus demi menyaring potensi tersembunyi mereka. Melalui ekosistem yang inklusif, para peserta dibekali keterampilan praktis agar mampu bersaing di pasar modern tanpa terikat ruang dan modal besar.
"Kami melihat bisnis digital bisa menjadi jembatan untuk mengurangi hambatan akses ekonomi bagi penyandang disabilitas dan pekerja migran purna," ujar Chief of Sustainability Evermos, Iqbal Muslimin, dalam keterangannya, dikutip Minggu (21/6/2026).
Iqbal menegaskan bahwa pemanfaatan gadget alias gawai pintar dalam genggaman terbukti efektif membuka pintu rezeki baru yang berkelanjutan tanpa menuntut syarat fisik yang kaku. Sinergi ini berjalan di bawah naungan organisasi perburuhan internasional, ILO melalui project Promise II Impact yang ditujukan meningkatkan akses UMKM terhadap jasa keuangan yang dimulai sejak 2023.
Sinergi tersebut menyatukan kurikulum niaga digital dan edukasi pengelolaan kas yang sehat. Langkah kolaboratif tersebut sengaja dirancang agar usaha rintisan yang dibangun oleh kelompok marginal tidak mandek di tengah jalan akibat salah urus keuangan.
"Lewat Evermos, seorang penyandang disabilitas maupun pekerja migran yang kembali ke kampung halaman bisa memulai usaha hanya dari ponsel," ungkap President Evermos, Arip Tirta. Pihaknya meyakini bahwa pemerataan akses informasi dan teknologi modern merupakan perwujudan nyata dari konsep emansipasi ekonomi yang seutuhnya.
Ratusan penerima manfaat di berbagai daerah kini telah merasakan dampak langsung dari program pelatihan intensif yang memanfaatkan fitur komunikasi bisnis tersebut. Pola pikir para buruh migran juga mulai diasah agar mampu mengubah sisa upah masa kerja luar negeri menjadi aset produktif di kampung halaman.
"Kemitraan antara ILO dan Evermos menjadi contoh bagaimana kolaborasi dapat membantu mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif," jelas Manajer Proyek Promise II Impact, Djauhari Sitorus. Djauhari menambahkan bahwa rampungnya fase pelatihan ini justru menjadi titik start bagi para alumni untuk membuktikan ketangguhan mental wirausaha mereka.
Keberhasilan program replikasi ini diharapkan mampu memicu institusi lain untuk membuka ruang pemberdayaan serupa di wilayah-wilayah pelosok nusantara. Masa depan ekonomi digital Indonesia kini tampak semakin cerah seiring dengan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat tanpa ada yang tertinggal.
Editor: Aris