get app
inews
Aa Text
Read Next : Micro Escape: Menemukan Jeda di Balik Layar Higgs Games Island

BSSN Ungkap Modus Baru Kejahatan Siber, dari Phishing hingga Deepfake

Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:02 WIB
header img
Tingginya aktivitas transaksi daring membuat kelompok ini rentan terhadap penipuan berbasis phishing dan manipulasi teknologi seperti deepfake. Foto ist

JAKARTA, iNewsTangsel.id - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menegaskan urgensi peningkatan literasi keamanan siber nasional di tengah lonjakan kejahatan digital yang kian kompleks dan terorganisir.

Melalui Festival Aman Digital 2026 yang digelar di Balai Kota Jakarta, BSSN memosisikan literasi sebagai garis pertahanan pertama dalam menghadapi ancaman siber yang kini tidak hanya menyerang sistem teknologi, tetapi juga memanfaatkan celah perilaku dan psikologis pengguna.

Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro, menegaskan bahwa rendahnya tingkat pemahaman masyarakat menjadi faktor dominan yang dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.

Ia menjelaskan, BSSN tengah mendorong gerakan nasional literasi keamanan siber selama 90 hari sebagai bagian dari implementasi rencana aksi nasional. “Keberhasilan literasi keamanan siber tidak dapat diwujudkan oleh satu institusi saja, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, pendidikan, media, hingga masyarakat luas,” ujarnya, Jumat (26/6/2026).

Pandangan tersebut diperkuat oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta, Marulina Dewi, yang menyoroti perubahan pola ancaman siber. Menurutnya, serangan kini berkembang ke arah social engineering, kebocoran data pribadi, serta penyebaran disinformasi yang berdampak luas.

“Serangan siber saat ini tidak lagi sekadar membuat sistem terganggu, tetapi juga menyasar sisi psikologis masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Deputi Direktur Departemen Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan sekaligus Sekretariat Satgas PASTI, Daniel Apriandi, mengungkapkan bahwa kelompok usia produktif 25–49 tahun menjadi target utama kejahatan digital.

Tingginya aktivitas transaksi daring membuat kelompok ini rentan terhadap penipuan berbasis phishing dan manipulasi teknologi seperti deepfake. “Penggunaan AI oleh pelaku kejahatan membuat modus penipuan semakin sulit dikenali,” ungkapnya.

Di sisi lain, penguatan literasi juga diarahkan pada pemahaman masyarakat terhadap aset kripto dan teknologi blockchain yang semakin berkembang di ekosistem digital. Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) menilai bahwa minimnya edukasi menjadi salah satu penyebab maraknya penipuan berkedok investasi digital. Anggota Departemen Advokasi Strategis ABI sekaligus Public Policy & Government Relations Manager PINTU, Deny Giovanno, menekankan pentingnya peningkatan literasi melalui berbagai program edukasi.

“Melalui Bulan Literasi Kripto yang kami inisiasi bersama regulator sejak 2023, kami berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang aset kripto dan teknologi blockchain, termasuk manfaat dan risikonya,” jelas Deny. Ia menambahkan, edukasi tersebut menjadi bagian dari upaya kolektif untuk membangun ekosistem digital yang aman sekaligus meningkatkan perlindungan konsumen.

Lebih lanjut, Deny menegaskan bahwa literasi tidak hanya berhenti pada aspek pengetahuan, tetapi juga harus mendorong sikap kritis masyarakat dalam menghadapi berbagai tawaran investasi digital. “Kami berkomitmen memperkuat sinergi dengan regulator dan pemangku kepentingan lainnya agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi blockchain dan aset kripto secara aman, bijak, dan bertanggung jawab,” tutupnya.

Editor : Hasiholan Siahaan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut