Gangguan Kandung Kemih Bisa Turunkan Kualitas Hidup, Ini Pentingnya Penanganan Dini
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Gangguan kandung kemih dan dasar panggul masih menjadi persoalan kesehatan yang tersembunyi di tengah masyarakat. Meski prevalensinya cukup tinggi, kondisi ini kerap tidak tertangani secara optimal karena rendahnya kesadaran, stigma sosial, serta anggapan keliru bahwa gangguan berkemih merupakan bagian normal dari proses penuaan atau pasca persalinan.
Data medis menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 8 perempuan mengalami gangguan berkemih, mulai dari inkontinensia urin, overactive bladder, hingga prolaps organ panggul. Namun, jumlah kasus yang terdiagnosis secara klinis diperkirakan jauh lebih rendah dari angka sebenarnya. Hal ini disebabkan banyak pasien memilih diam, menunda pemeriksaan, atau bahkan tidak menyadari bahwa gejala yang dialami merupakan kondisi medis yang dapat ditangani.
Sebuah pusat layanan terpadu yang dirancang untuk memberikan pendekatan menyeluruh dalam penanganan gangguan kandung kemih dan dasar panggul, baik pada perempuan maupun laki-laki. Pasien dapat menjalani seluruh rangkaian layanan, mulai dari konsultasi awal, pemeriksaan diagnostik, terapi, hingga tindakan lanjutan dalam satu sistem yang terintegrasi.
“Kami melihat bahwa banyak pasien berpindah-pindah layanan karena penanganan yang tidak terkoordinasi. Melalui klinik ini, kami menghadirkan solusi terintegrasi agar diagnosis lebih cepat, terapi lebih tepat, dan hasil klinis lebih optimal,” ujar dr. Fina Widia, Sp.U (K), spesialis urologi konsultan Female Functional Urology & Neurourology, Kamis (2/7/2026). Klinik ini mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, termasuk urologi, neurologi, rehabilitasi medik, radiologi, hingga pelvic floor physiotherapy.
Pendekatan multidisiplin ini dinilai krusial karena gangguan kandung kemih sering kali melibatkan berbagai aspek, mulai dari fungsi saraf, otot dasar panggul, hingga faktor hormonal dan gaya hidup.
Salah satu keunggulan utama yang dihadirkan adalah penggunaan teknologi diagnostik Video Urodynamic Studies (VUDS). Teknologi ini memungkinkan dokter mengevaluasi fungsi kandung kemih dan saluran kemih bagian bawah secara detail dan real-time, sehingga penyebab gangguan dapat diidentifikasi secara lebih akurat.
Dengan diagnosis yang presisi, dokter dapat menentukan terapi yang lebih personal, mulai dari pengobatan konservatif, fisioterapi, hingga tindakan medis lanjutan. Hal ini penting mengingat setiap pasien memiliki kondisi dan penyebab gangguan yang berbeda.
Selain aspek diagnostik, layanan rehabilitasi juga menjadi fokus utama melalui program pelvic floor physiotherapy. Terapi ini berperan dalam memperkuat otot dasar panggul, meningkatkan kontrol berkemih, serta membantu pemulihan pasien pasca persalinan maupun pasca operasi.
Bagi kasus yang memerlukan intervensi lebih lanjut, klinik ini juga didukung teknologi bedah robotik yang memungkinkan prosedur dilakukan secara minimal invasif. Teknologi ini memberikan sejumlah keunggulan, seperti tingkat presisi yang tinggi, visualisasi yang lebih jelas, serta waktu pemulihan yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
“Dengan dukungan teknologi robotik, kami dapat memberikan opsi penanganan yang lebih aman dan nyaman bagi pasien, terutama untuk kasus yang kompleks,” tambah dr. Fina.
Selain menghadirkan layanan medis, Siloam Hospitals Asri juga menempatkan edukasi sebagai pilar utama dalam penanganan gangguan ini. Melalui rangkaian health talk, masyarakat diajak untuk memahami bahwa keluhan seperti sering buang air kecil, sulit menahan kencing, atau rasa tidak tuntas saat berkemih bukanlah hal yang harus dianggap normal.
Prof. dr. Harrina Erlianti Rahardjo, Sp.U (K), Ph.D menekankan bahwa keterlambatan diagnosis sering kali berakar dari persepsi yang keliru di masyarakat.
“Banyak pasien datang dalam kondisi yang sudah cukup berat karena merasa malu atau menganggap ini hal biasa. Padahal, sebagian besar gangguan kandung kemih dapat ditangani dengan baik jika terdeteksi lebih awal,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa dampak gangguan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup secara menyeluruh, termasuk aktivitas sosial, produktivitas, hingga kesehatan mental pasien.
Sementara itu, Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Frelita, MM, menyatakan bahwa kehadiran klinik ini merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan yang lebih berfokus pada kebutuhan pasien.
“Kami ingin menghadirkan layanan yang tidak hanya kuratif, tetapi juga preventif dan rehabilitatif. Klinik ini menjadi wujud komitmen kami dalam menyediakan layanan subspesialistik berstandar internasional yang terintegrasi dan berpusat pada pasien,” ujarnya.
Editor : Hasiholan Siahaan