Teknologi AI Ubah Cara Cek Kondisi Kulit, Cukup dengan Foto Selfie
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Cara masyarakat memahami kondisi kulit mulai berubah. Di tengah maraknya tren skincare di media sosial, pendekatan berbasis teknologi kini semakin banyak digunakan untuk membantu mengenali kebutuhan kulit secara lebih objektif.
Salah satu inovasi yang mulai diperkenalkan adalah analisis kulit berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat dilakukan hanya melalui foto selfie. Teknologi ini memungkinkan pengguna memperoleh gambaran awal kondisi kulit tanpa harus datang langsung ke klinik.
Metode ini bekerja dengan mengevaluasi berbagai parameter penting, seperti tingkat kelembapan, produksi minyak, pigmentasi, tekstur kulit, hingga tanda-tanda penuaan. Hasil analisis kemudian memberikan indikasi apakah kondisi kulit tergolong normal, ringan, atau membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Kemunculan teknologi ini dinilai sebagai respons terhadap kebingungan konsumen dalam memilih produk perawatan kulit. Selama ini, banyak orang mencoba berbagai produk berdasarkan tren tanpa memahami kondisi kulit secara menyeluruh.
Namun demikian, penggunaan teknologi ini tetap memiliki keterbatasan. Hasil analisis digital umumnya bersifat awal dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga medis, terutama untuk kasus kulit yang lebih kompleks.
Di sisi lain, tren ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumen yang semakin mengutamakan personalisasi dalam perawatan kulit. Tidak lagi sekadar mengikuti rekomendasi populer, tetapi mulai mencari solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Berbeda dari metode skin analysis konvensional, Skin AIdentify memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memberikan analisis kulit yang lebih objektif dan personal. Teknologi ini dirancang sebagai pintu awal menuju perawatan yang tepat, bukan sekadar alat pemindai biasa.
Direktur Brand & Marketing ERHA Skincare Group, Afril Wibisono, menjelaskan bahwa Skin AIdentify menjadi bagian dari ekosistem dermatologi terintegrasi milik ERHA. “Pengguna tidak hanya mendapatkan hasil analisis, tetapi juga bisa langsung terhubung ke layanan lanjutan seperti telekonsultasi hingga perawatan di klinik,” ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Melalui satu kali selfie, sistem akan mengevaluasi berbagai parameter penting kulit, mulai dari hidrasi, produksi minyak, pigmentasi, inflamasi, tekstur, hingga tanda penuaan. Hasilnya memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi kulit pengguna, termasuk apakah masalah yang dialami masih ringan atau memerlukan penanganan lebih lanjut.
Pendekatan ini dinilai relevan dengan gaya hidup modern yang serba cepat dan digital. Pengguna tidak perlu datang ke klinik untuk tahap awal, karena proses identifikasi dapat dilakukan secara mandiri melalui perangkat digital.
Lebih dari sekadar teknologi, keunggulan Skin AIdentify terletak pada konektivitasnya dengan jaringan ERHA yang tersebar di lebih dari 100 kota di Indonesia. Setelah analisis, pengguna dapat melanjutkan ke konsultasi dokter, mendapatkan rekomendasi produk, hingga perawatan lanjutan secara terarah.
Dengan perkembangan teknologi yang terus berjalan, analisis kulit berbasis AI diperkirakan akan menjadi bagian dari ekosistem perawatan kulit di masa depan, terutama sebagai langkah awal sebelum konsultasi lebih lanjut, tegas Afril.
Editor : Hasiholan Siahaan