Krisis Energi 2026 Dorong Pemerintah Percepat Elektrifikasi Bus di Indonesia
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Pemerintah mempercepat transformasi transportasi publik dan elektrifikasi bus sebagai respons atas tekanan krisis energi dan tingginya ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia di Jakarta, Rabu (5/8/2026), yang menghadirkan Kementerian Perhubungan, Kementerian PPN/Bappenas, Perum DAMRI, serta Institute for Essential Services Reform (IESR).
Direktur Angkutan Jalan Kementerian Perhubungan, Muiz Thohir, mengatakan krisis energi justru menjadi momentum untuk mempercepat transformasi transportasi publik nasional. Pemerintah telah menetapkan elektrifikasi sebagai prioritas dalam kebijakan transportasi 2025–2029.
“Elektrifikasi transportasi publik menjadi fokus utama. Pemerintah akan terus menyempurnakan regulasi, sementara kolaborasi lintas sektor diperlukan agar ekosistemnya berkembang lebih cepat,” ujar Muiz.
Kementerian Perhubungan bersama ITDP Indonesia telah menyusun peta jalan elektrifikasi transportasi publik perkotaan dengan target 100 persen bus listrik pada 2045. Untuk mencapai target tersebut, dibutuhkan investasi sekitar Rp116 triliun dengan potensi penurunan emisi gas rumah kaca hingga 41 persen.
Deputy Director ITDP Indonesia, Deliani Siregar, menegaskan bahwa elektrifikasi harus berjalan beriringan dengan reformasi sistem transportasi.
“Tanpa perbaikan tata kelola, elektrifikasi tidak akan optimal. Sebaliknya, jika keduanya berjalan bersama, efisiensi operasional bus listrik yang lebih rendah bisa menghadirkan layanan yang lebih terjangkau bagi masyarakat,” katanya.
Dari sisi implementasi, Perum DAMRI menyampaikan perkembangan penggunaan bus listrik yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hingga kini, DAMRI telah mengoperasikan ratusan unit bus listrik, khususnya di layanan Transjakarta.Vice President Sales & Marketing Perum DAMRI, Teguh Aditya Dharma, menyebut tantangan utama bukan lagi teknologi, melainkan kesiapan ekosistem. “Infrastruktur pengisian daya, kepastian kontrak jangka panjang, dan model pembiayaan menjadi faktor kunci dalam mempercepat elektrifikasi,” ujarnya.
Editor : Hasiholan Siahaan