Sasar Pasien Indonesia, Malaysia Perkuat Layanan Medis di Kuching
JAKARTA, iNewsTangsel - Sektor wisata medis (medical tourism) di kawasan Asia Tenggara terus dikembangkan seiring peningkatan pasien yang membutuhkan layanan medis memadai. Salah satunya dengan dimulainya pembangunan rumah sakit berbasis teknologi canggih bernilai investasi Rp1,4 triliun di Kuching, Sarawak.
Fasilitas kesehatan tersier berkapasitas 300 tempat tidur tersebut disiapkan khusus untuk menangkap lonjakan pasar berobat luar negeri, terutama bagi pasien asal Indonesia yang pasarnya terus bertumbuh pesat.
Pembangunan fasilitas modern oleh grup layanan kesehatan regional HMI Medical dengan proyek Regency Specialist Hospital Kuching ini akan menjadi rumah sakit swasta pertama milik di Sarawak yang mengusung konsep SMART Tertiary Hospital.
Berlokasi sangat strategis di kawasan Northbank, Kuching, rumah sakit cerdas ini mengintegrasikan teknologi medis mutakhir, sistem digital terintegrasi, serta alur kerja klinis modern. Pembangunannya dirancang dalam dua tahap yang memprioritaskan pusat layanan kanker, smart-wards, ruang operasi berteknologi tinggi, hingga fasilitas diagnostik multidisiplin.
Ditargetkan proyek pembangunan layanan medis akan beroperasi penuh pada tahun 2029 ini. "Regency Specialist Hospital Kuching adalah jawaban kami untuk memperluas akses layanan kesehatan berkualitas dan mendukung kesejahteraan masyarakat jangka panjang," ujar CEO HMI Medical Group, Chin Wei Jiah, dalam keterangan resminya, Jumat (14/8/2026).
Keseriusan pengembangan infrastruktur ini juga didorong oleh fakta melonjaknya tren medical tourism di Sarawak secara drastis dalam beberapa tahun terakhir. Data mencatat jumlah wisatawan kesehatan meningkat tajam dari 64.393 orang pada 2023 menjadi lebih dari 104.000 pasien pada 2025, di mana Kota Kuching tampil sebagai kontributor utamanya.
Indonesia secara khusus menjadi target pasar utama HMI Medical mengingat besarnya basis pasien asal Tanah Air yang rutin berobat ke Malaysia. Demi mempermudah aksesibilitas pasien Indonesia, HMI Medical bahkan telah mengoperasikan 12 kantor perwakilan (representative offices) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Selain memperkuat infrastruktur medis regional, keberadaan rumah sakit baru ini diproyeksikan mampu membuka lebih dari 1.000 lapangan kerja baru bagi tenaga kesehatan. Tak main-main, HMI Medical turut mengalokasikan dana segar sebesar RM50 juta melalui HMI Malaysia Healthcare Workforce 2030 Fund untuk beasiswa dan pelatihan klinis.
CEO HMI Malaysia, Stanley Lam, menegaskan komitmen jangka panjang perusahaan dalam membangun kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan. "Kami membangun jalur tenaga profesional terampil untuk membentuk generasi layanan kesehatan berikutnya di Sarawak," pungkas Stanley.
Editor : Aris