Olahraga Jadi Gaya Hidup, Dompet Gen Z Ikut Terkuras
JAKARTA, iNewsTangsel.id - Tren gaya hidup aktif di kalangan masyarakat urban tak hanya mengubah cara menjaga kebugaran, tapi juga ikut menggeser pola pengeluaran. Padel, tenis, maraton, hingga hyrox semakin populer, namun biaya untuk menjalani hobi tersebut mulai menjadi tantangan bagi kesehatan finansial, terutama generasi muda (Gen Z).
Riset media sosial bertajuk “Sehat Fisik vs Sehat Dompet” yang digelar Amar Bank terhadap 300 responden di Jabodetabek dan sejumlah kota besar, menunjukkan adanya perbedaan cara Gen Z dan milenial mengatur pengeluaran untuk hobi olahraga.
Marketing Head Amar Bank, Rosalinda Hoesin mengatakan, sebanyak 51,9 persen Gen Z mengaku rela mengurangi anggaran untuk nongkrong dan membeli kopi demi membiayai hobi wellness. Sementara itu, 52 persen milenial memilih tetap berpegang pada batas anggaran dan menunda hobi ketika dana belum tersedia.
"Persoalan muncul ketika pengeluaran untuk olahraga mulai mengambil porsi signifikan dari pendapatan. Sebanyak 28,9 persen Gen Z dalam riset tersebut mengalokasikan lebih dari 10 persen pendapatan bulanan untuk hobi olahraga. Bahkan, 10,6 persen mengaku mengalokasikan lebih dari 20 persen pendapatan hingga harus mengorbankan tabungan," terangnya, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya paradoks dalam tren active wellness. Di satu sisi, aktivitas olahraga dapat mendukung kesehatan fisik. Namun di sisi lain, biaya keanggotaan fasilitas olahraga, lapangan, perlengkapan, pakaian, hingga mengikuti berbagai ajang olahraga dapat menjadi beban apabila tidak disesuaikan dengan kemampuan finansial.
"Risiko juga terlihat dari ketahanan dana darurat. Sebanyak 29,8 persen Gen Z mengaku pernah menggunakan dana darurat untuk membiayai hobi. Sementara itu, 34,2 persen milenial berada dalam kondisi rentan karena belum memiliki dana darurat yang memadai atau mengandalkan utang ketika menghadapi kebutuhan mendesak," katanya.
Ia menjelaskan, temuan tersebut memperlihatkan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan fisik belum selalu diikuti dengan pengelolaan kesehatan finansial yang seimbang.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah menetapkan batas pengeluaran untuk kebutuhan gaya hidup setelah kebutuhan pokok, tabungan, dan dana darurat terpenuhi.
"Dengan cara tersebut, olahraga tetap dapat menjadi bagian dari rutinitas tanpa menggeser kebutuhan finansial yang lebih mendasar," tegas Rosalinda.
Ia mengungkapkan, pengeluaran untuk perlengkapan olahraga juga dapat dinilai berdasarkan tingkat pemakaian. Konsep cost per use, misalnya, memungkinkan seseorang membandingkan harga suatu perlengkapan dengan seberapa sering barang tersebut benar-benar digunakan.
"Sepatu lari seharga Rp1,5 juta yang digunakan 150 kali dalam setahun memiliki biaya sekitar Rp10 ribu setiap pemakaian. Sebaliknya, sepatu seharga Rp2 juta yang hanya digunakan empat kali dalam setahun memiliki biaya sekitar Rp500 ribu setiap pemakaian," paparnya.
Ia menerangkan, perhitungan sederhana tersebut dapat membantu konsumen melihat,napakah pembelian perlengkapan olahraga benar-benar berkaitan dengan kebutuhan aktivitas atau lebih didorong oleh tren dan keinginan mengikuti gaya hidup di media sosial.
"Selain pengeluaran rutin, dana darurat juga perlu ditempatkan sebagai prioritas. Dana tersebut idealnya disiapkan untuk menghadapi kebutuhan tak terduga sehingga tidak perlu mengambil tabungan tujuan lain atau menambah utang ketika terjadi kondisi darurat," imbuhnya.
Ditambahkan, fenomena meningkatnya biaya gaya hidup aktif pada akhirnya memperlihatkan bahwa menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan seberapa sering seseorang berolahraga. Kemampuan mengatur pengeluaran agar aktivitas tersebut tetap berkelanjutan juga menjadi bagian dari pola hidup yang sehat.
"Sehingga tren active wellness dapat berjalan beriringan dengan kesehatan finansial apabila pengeluaran untuk olahraga ditempatkan sebagai bagian dari anggaran, bukan mengorbankan kebutuhan pokok, tabungan, maupun dana darurat," pungkasnya.
Editor: Elva Setyaningrum