Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pembubaran Ibadah GKPI Rajeg Dilaporkan ke Polisi, Aliansi Pemuda Desak Penegakan Hukum Objektif
Advertisement . Scroll to see content

‎Kemarau Panjang, Kasus ISPA di Tangerang Melonjak

Jum'at, 25 September 2026 | 20:06 WIB
  • author Elva
‎Kemarau Panjang, Kasus ISPA di Tangerang Melonjak
Kemarau panjang, kasus ISPA di Kabupaten Tangerang meningkatkan tajam. Foto Istimewa

TANGERANG, iNewsTangsel.id -Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Tangerang mulai berdampak pada kesehatan masyarakat. Salah satu,  infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengalami lonjakan tajam. Tercatat, selama Juli dan Agustus 2026, kasus ISPA ‎mencapai 18.000 hingga 25.000 kasus. Mlihat peningkatan itu, kelompok rentan diminta waspada.

‎Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi mengatakan, peningkatan kasus tersebut terjadi di tengah cuaca panas ekstrem, minim hujan, dan kondisi udara yang cenderung kering. Sehingga kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid.

‎“Dalam dua bulan terakhir, kasus ISPA melonjak tajam, dan ini dipicu oleh cuaca panas ekstrem,” kata Hendra, Rabu (23/9/2026).

‎Hendra menjelaskan, masyarakat diminta meningkatkan pencegahan, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan. Warga juga dianjurkan menggunakan masker serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh dengan memperbanyak minum air putih.

‎"Asupan buah dan sayur juga dianjurkan untuk membantu menjaga kondisi tubuh selama cuaca ekstrem berlangsung," imbuhnya.

‎Menurut Hendra, gejala ISPA umumnya menyerupai infeksi saluran pernapasan akibat influenza. Gejalanya antara lain demam, batuk, pilek, nyeri pada tubuh, hingga pusing.

‎"Kami bersama puskesmas di berbagai wilayah juga terus memantau perkembangan kasus ISPA. Penanganan dilakukan untuk mencegah kondisi pasien berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat, termasuk bronkopneumonia atau peradangan pada paru-paru," terangnya.

‎Sementara itu, Sekretaris Dinkes Kabupaten Tangerang Sri Indriyani, mengingatkan warga tidak membakar sampah selama kondisi udara kering. Asap hasil pembakaran sampah, kata dia, dapat menambah paparan polutan di udara dan mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang memiliki kerentanan terhadap penyakit pernapasan.

‎"Masyarakat diminta lebih memperhatikan kondisi kesehatan selama kemarau panjang, khususnya jika mulai mengalami gejala seperti batuk, pilek, demam, atau gangguan pernapasan yang menetap," kata Sri.  

Editor: Elva Setyaningrum

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut