Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Banten Perkuat Industri Aluminium dengan Fasilitas CTP Binder Pertama di Indonesia
Advertisement . Scroll to see content

Indonesia Siapkan PLTN, BRIN Identifikasi 28 Lokasi Potensial

Jum'at, 09 Oktober 2026 | 20:45 WIB
  • author Hasiholan
Indonesia Siapkan PLTN, BRIN Identifikasi 28 Lokasi Potensial
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial yang dapat dikaji lebih lanjut untuk mendukung pengembangan pembangkit nuklir. Foto istimewa

BANTEN, iNewsTangsel.id - Indonesia mulai mematangkan langkah menuju pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk memenuhi kebutuhan energi jangka panjang. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial yang dapat dikaji lebih lanjut untuk mendukung pengembangan pembangkit nuklir.

Rencana tersebut mengemuka di tengah meningkatnya kebutuhan listrik untuk industri, pusat data, dan pengembangan kecerdasan buatan (AI). Pemerintah menargetkan PLTN komersial pertama berkapasitas 250 megawatt (MW) mulai beroperasi pada 2032, sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, menilai Indonesia telah memiliki sejumlah modal penting untuk memulai pengembangan PLTN, mulai dari sumber daya manusia hingga teknologi yang tersedia secara komersial. Namun, pembangunan pembangkit nuklir tetap membutuhkan persiapan menyeluruh, termasuk pemilihan lokasi, pendanaan, keselamatan, dan pengelolaan limbah.

“Bagi kita [BRIN], saya pikir Indonesia sudah siap dengan berbagai komponen tadi sebenarnya. Mulai dari tapak sudah ada, SDM kita tidak kekurangan,” kata Syaiful dalam diskusi kelompok terarah bertajuk Kupas Tuntas Energi Masa Depan, Jumat (9/10/2026).

Menurut Syaiful, Indonesia tidak harus menunggu teknologi reaktor generasi baru untuk merealisasikan pembangunan PLTN. Reaktor berkapasitas besar yang telah tersedia secara komersial dapat menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional.

“Kita tinggal pilih sebenarnya. Banyak yang sekarang ready untuk kita pesan, terutama yang large, bukan yang small modular reactor,” ujarnya.

Dalam kebijakan energi jangka panjang, kapasitas pembangkit nuklir Indonesia diproyeksikan mencapai 35–42 gigawatt (GW) pada 2060. Energi nuklir juga ditargetkan menyumbang sekitar 11,7–12,1 persen terhadap bauran energi primer nasional.

Meski demikian, Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Sripeni Inten Cahyani, menilai tantangan utama bukan semata-mata ketersediaan teknologi, melainkan konsolidasi berbagai sumber daya dan institusi agar pengembangan nuklir memiliki arah yang jelas sebagai program nasional.

“Sebenarnya tinggal menunggu dari Presiden mengatakan ‘Indonesia Go Nuclear’ selesai. Karena dari sisi BRIN sudah siap,” ujar Sripeni.

Ia menyebut Kalimantan Barat dan Bangka Belitung sebagai wilayah yang berpotensi dikaji untuk pengembangan PLTN. Penentuan lokasi, menurutnya, perlu mempertimbangkan kebutuhan listrik setempat, terutama untuk mendukung pertumbuhan industri dan kawasan ekonomi.

Sripeni juga menyoroti perlunya pembentukan satuan tugas untuk mengintegrasikan berbagai persiapan yang telah dilakukan. Menurutnya, pengembangan energi nuklir perlu diselaraskan dengan proyeksi permintaan listrik yang terus meningkat, termasuk dari pusat data dan industri berbasis kecerdasan buatan.

Di luar rencana pembangunan PLTN, teknologi nuklir sebenarnya telah dimanfaatkan di Indonesia, antara lain dalam bidang pertanian, kesehatan, dan industri. Ketua Umum Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), Djarot S. Wisnubroto, mengatakan pemanfaatan radiasi untuk pemuliaan tanaman dapat membantu menghasilkan varietas dengan produktivitas lebih tinggi dan masa panen lebih singkat.

“Tanaman yang tadinya panen satu tahun sekali bisa menjadi beberapa bulan sekali. Yang tadinya tinggi dan mudah rebah menjadi lebih pendek, lebih hemat air, atau produktivitas yang tadinya hanya lima ton per hektare menjadi sembilan ton per hektare,” kata Djarot.

Ia menjelaskan, pemanfaatan radiasi dalam pemuliaan tanaman bertujuan mempercepat proses perubahan alami untuk memperoleh karakteristik tanaman yang diinginkan. Karena itu, edukasi kepada masyarakat tetap diperlukan untuk menjawab kekhawatiran mengenai keamanan pangan hasil pemanfaatan teknologi tersebut.

Sementara itu, Ketua PKNTMI, Yustia Tuti, menekankan pentingnya pemahaman mengenai keselamatan penggunaan radiasi di bidang medis. Menurutnya, prosedur kedokteran nuklir menggunakan dosis yang diperhitungkan sesuai kebutuhan, dengan mempertimbangkan manfaat dan risiko bagi pasien.

Berbagai pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi nuklir di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan rencana pembangunan PLTN. Tantangan berikutnya adalah memastikan kesiapan regulasi, keselamatan, pendanaan, dan penerimaan masyarakat agar pemanfaatannya dapat berkembang secara bertanggung jawab, sejalan dengan target transisi energi menuju Net Zero Emission pada 2060.

Editor: Hasiholan Siahaan

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut