Era Digital, Generasi Muda Tak Cukup Hanya Bisa Membaca
JAKARTA, iNewsTangsel.id -Kemampuan membaca dan mengakses informasi belum cukup untuk membentuk generasi muda yang tangguh di tengah perkembangan teknologi digital. Pemahaman terhadap diri sendiri, pengelolaan emosi, dan pembentukan karakter juga menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam peluncuran Narasraya Literasi 2026 yang digelar di Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan melalui kolaborasi Restorasi Jiwa Indonesia dan Narasraya Raksaka Indonesia itu mengangkat literasi diri sebagai bagian dari upaya pengembangan karakter generasi muda.
Founder Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal, dalam pemaparannya mengajak peserta memperluas pemahaman mengenai literasi, dari sekadar membaca buku menjadi kemampuan mengenali pikiran, emosi, dan pola perilaku diri sendiri.
"Pemahaman terhadap diri menjadi salah satu bekal untuk mengambil keputusan secara lebih sadar dan bertanggung jawab. Membaca buku membuka jendela pengetahuan. Membaca diri membuka pintu kesadaran. Dan ketika kesadaran menjadi tindakan, di sanalah transformasi kehidupan dimulai,” kata Syam, Senin (26/10/2026).
Ia menjelaskan, literasi diri mencakup kemampuan mengenali pola pikir, memahami emosi, mengidentifikasi keyakinan yang membatasi, serta mengevaluasi kebiasaan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
"Pendekatan tersebut diperkenalkan melalui materi lima pilar literasi diri dan transformasi kesadaran. Pembahasannya meliputi kesadaran diri, pola bawah sadar dan hambatan mental, penerimaan diri, prinsip sebab-akibat dalam kehidupan, serta penerjemahan kesadaran menjadi tindakan nyata," terangnya.
Syam mengungkapkan, penguatan literasi diri menjadi relevan ketika generasi muda menghadapi arus informasi yang semakin cepat, perubahan sosial, dan perkembangan kecerdasan buatan. Di tengah kondisi tersebut, kemampuan memilah informasi perlu berjalan beriringan dengan kecakapan mengelola respons emosional dan mempertimbangkan dampak suatu keputusan.
"Literasi dalam konteks ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan kemampuan membaca dan berpikir kritis, melainkan melengkapinya dengan pemahaman terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial," imbuhnya.
Ia menerangkan, kemampuan mengenali emosi, misalnya, dapat membantu seseorang memahami responsnya ketika menghadapi tekanan. Sementara itu, kesadaran terhadap pola pikir dan kebiasaan dapat menjadi langkah awal untuk mengevaluasi perilaku yang perlu dipertahankan atau diubah.
"Tapi pengembangan kesadaran diri merupakan proses yang membutuhkan pembelajaran dan latihan berkelanjutan. Perubahan perilaku tidak cukup hanya melalui pemahaman konsep, tetapi juga memerlukan penerapan dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Penyelenggaraan kegiatan ini bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan generasi muda tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Editor: Elva Setyaningrum