Kanker Payudara Stadium Lanjut, Bukan Berarti Tanpa Harapan
TANGERANG, iNewsTangsel.id -Diagnosis kanker payudara stadium lanjut kerap menimbulkan ketakutan bagi pasien karena sulit disembuhkan. Namun, perkembangan pengobatan kanker membuka lebih banyak pilihan terapi untuk mengendalikan pertumbuhan sel kanker, memperlambat penyebarannya, serta mempertahankan kualitas hidup pasien.
Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi dari Eka Hospital BSD, dr. Sonar Soni Panigoro menjelaskan, penanganan kanker payudara stadium lanjut tidak hanya berfokus pada upaya memperpanjang harapan hidup, tetapi juga mengendalikan penyakit dan mengurangi keluhan yang dialami pasien.
"Pada kondisi ini, tujuan pengobatan disesuaikan dengan stadium kanker, karakteristik sel tumor, kondisi kesehatan pasien, serta respons terhadap terapi yang diberikan," katanya, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, kanker payudara stadium lanjut mencakup stadium III dan stadium IV, memiliki karakteristik berbeda. Pada stadium III, kanker umumnya telah tumbuh lebih besar atau menyebar ke jaringan di sekitar payudara, termasuk kulit, dinding dada, maupun kelenjar getah bening di sekitarnya.
"Sementara itu, kanker payudara stadium IV terjadi ketika sel kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain atau mengalami metastasis. Organ yang dapat terdampak antara lain tulang, paru-paru, hati, dan otak," ujarnya.
Ia menerangkan, perbedaan stadium tersebut memengaruhi strategi pengobatan yang dipilih dokter. Pada kanker stadium awal, operasi untuk mengangkat tumor dapat menjadi bagian utama penanganan dengan tujuan penyembuhan.
"Pada stadium lanjut, pengobatan dapat melibatkan kombinasi beberapa metode untuk mengendalikan penyakit, mengurangi gejala, dan mempertahankan kualitas hidup," imbuhnya dr. Sonar.
Ia mengungkapkan, pada sebagian pasien, terapi dapat memberikan respons yang membuat kanker mengecil atau terkendali dalam waktu tertentu. Namun, hasil pengobatan berbeda-beda pada setiap orang dan perlu dievaluasi secara berkala oleh tim medis.
"Penanganan kanker payudara stadium lanjut bersifat individual. Dokter menentukan terapi berdasarkan hasil pemeriksaan jaringan tumor atau biopsi, karakteristik biologis kanker, serta kondisi pasien," tegasnya.
dr. Sonar menerangkan, salah satu pendekatannya adalah terapi sistemik, termasuk kemoterapi. Pilihan lainnya terapi target atau targeted therapy. Terapi hormonal juga dapat digunakan pada kanker payudara yang memiliki reseptor hormon positif.
"Selain terapi obat, operasi dan radioterapi masih dapat berperan dalam penanganan kanker stadium lanjut. Operasi juga dapat dipertimbangkan untuk menangani masalah tertentu, seperti luka tumor yang sulit ditangani atau menimbulkan risiko infeksi," katanya.
Karena itu, menurutnya, tidak semua pasien stadium lanjut membutuhkan kombinasi terapi yang sama. Keputusan pengobatan harus disesuaikan dengan kondisi klinis dan tujuan perawatan masing-masing pasien.
Pada kesempatan yang sama Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, dr. Andi Azwadi Rais menambahkan, selain pengobatan untuk mengendalikan kanker, aspek fisik dan psikologis setelah operasi juga perlu diperhatikan. Sebagian pasien kanker payudara harus menjalani mastektomi, yaitu operasi pengangkatan seluruh jaringan payudara, sebagai bagian dari penanganan penyakit.
"Perubahan bentuk tubuh setelah operasi dapat memengaruhi citra diri dan rasa percaya diri. Dalam kondisi tersebut, rekonstruksi payudara dapat menjadi salah satu pilihan bagi pasien yang ingin membentuk kembali payudara setelah menjalani mastektomi," ujarnya.
Ia mengatakan, rekonstruksi payudara tidak semata-mata bertujuan memperbaiki penampilan. Prosedur ini juga dapat menjadi bagian dari upaya mendukung pemulihan pasien secara menyeluruh.
"Rekonstruksi payudara merupakan tindakan bedah untuk membentuk kembali payudara agar bentuk dan volumenya mendekati kondisi yang diharapkan pasien. Dalam kondisi tertentu, rekonstruksi juga dapat mencakup pembentukan kembali puting dan areola, yaitu area berwarna lebih gelap di sekitar puting," ucapnya.
Namun, lanjut dr. Andi, prosedur ini tidak wajib dilakukan oleh setiap pasien. Keputusan untuk menjalani rekonstruksi perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, rencana terapi kanker, serta keinginan pasien.
"Secara umum, rekonstruksi payudara dapat dilakukan menggunakan implan dan jaringan tubuh pasien sendiri atau autologous flap yang memanfaatkan jaringan kulit dan lemak, serta terkadang otot, dari bagian tubuh lain, seperti perut bawah atau punggung, untuk membentuk payudara baru," ungkapnya.
Editor: Elva Setyaningrum